Balada Seorang Narapidana (Bagian 191) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 191)

Minggu, 10 Juli 2022, Minggu, Juli 10, 2022


Oleh, Dalem Tehang


SETELAH mandi sore dan berganti pakaian, aku merebahkan kasur yang sebelumnya disandarkan ke tembok kamar. Dan duduk dengan khusu’ di atasnya. Membaca Alqur’an.


Ayat demi ayat berikut artinya, aku baca dengan kesungguhan. Hingga adzan Maghrib terdengar, baru aku akhiri kegiatan membaca dan memahami kandungan kitab suci.


Karena petang itu hujan cukup deras sedang mengguyur kawasan rutan, aku tidak ke masjid untuk solat berjamaah. Cukup menjalankan ibadah wajib tersebut di kamar saja. Dan setelahnya, kembali membaca Alqur’an, hingga adzan Isya.


Baru saja selesai menjalankan solat Isya, Rudy mendekat. Memberi isyarat untuk makan malam. Aku dan Rudy makan di ruang depan. 


Makan malam untukku sudah disiapkan oleh Rudy. Diambilkan dari kiriman catering dapur. Berbagi dengan Ino. Berlauk kuah sayur kacang, dengan terong sambel ditambah sejumput bihun goreng. 


Saat kami sedang makan, seorang tamping datang. Membawa piring berisi singkong goreng.


“Buat pakde, kiriman dari komandan,” kata tamping itu, seraya menaruhkan piring di meja kecil tempat aku dan Rudy makan.


“O iya, Alhamdulillah. Terimakasih ya. Salam dan sampein terimakasihku buat komandan,” sahutku.


Sambil tersenyum, tamping itu memberi isyarat, meminta sebatang rokok. Aku minta Rudy mengambilkan rokokku yang ada di atas rak kamar bagian dalam.


Setelah permintaannya terpenuhi, tamping berusia 30 tahunan itu, membalikkan badannya. Kembali ke pos penjagaan, mendampingi komandan yang bertugas malam itu hingga besok pagi.


“Ada aja rejeki om ini ya,” ucap Rudy, dn mengambil satu potong singkong goreng yang ada di meja.


“Ini rejeki kita, Rud. Bukan aku aja. Yang penting terus bersyukur. Yakin aja, Allah akan terus beri kita rejeki, sampai kita mati nanti,” kataku. 


Sambil menikmati sebatang rokok, aku berdiri di pintu kamar. Air dari langit terus berkucuran. Tidak terlalu deras. Hanya suara geluduk disertai percikan kilat, hampir tiada henti. 


Seakan langit sedang menunjukkan kepiawaiannya memainkan musik. Dengan hentakan awal yang keras, namun perlahan-lahan menjadi mengecil, menjauh, dan kemudian berhenti. Terus berulang demikian.     


“Om izin, aku mau nonton sinetron di tivi,” kata Rudy, yang langkahnya untuk keluar kamar terhalang, karena aku berdiri di pintu kamar.


“O iya, Rud. Aku mau geletak aja. Kayaknya hujan ini bakal semaleman. Enakan dibawa leyeh-leyeh,” sahutku, seraya membalikkan badan dan masuk ke bagian dalam kamar untuk kemudian rebahan di kasur.


Setelah merapatkan pintu kamar, Rudy berjalan ke ruang depan pintu masuk Blok B. Ia bergabung dengan beberapa tahanan yang tengah menikmati hiburan melalui televisi. Diantaranya terdapat Basri dan Dino.


Rintik hujan yang tiada henti, membuat suasana kamar menjadi sejuk. Mengelupas panas yang menempel di tembok, setelah seharian disorot oleh sinar mentari. Hawa dingin yang masuk melalui sela-sela jeruji besi, membuatku segera ingin tidur. Dan lelaplah aku dalam kematian sesaat. 


Hingga terbangun ketika mendengar suara para tamping telah menjalankan tugas kebersihan, pagi hari.


“Astaghfirullah,” ucapku, begitu sadar bila aku bangun tidur kesiangan. 


Bahkan hampir tidak bisa lagi menjalankan ibadah solat Subuh, karena matahari akan segera menunjukkan sosoknya di ufuk timur. 


Buru-buru aku ke kamar mandi, wudhu. Dan menjalankan kewajiban seorang makhluk kepada Khaliqnya. Basri dan Dino masih mendengkur di kanan dan kiri tempatku duduk tepekur memanjatkan seribu doa. 


Rudy juga masih lelap dalam tidurnya. Di bagian depan, tepat di bawah jeruji besi. Meringkuk kedinginan. Hingga melipat kakinya.


Aku keluar kamar. Berdiri di teras. Memandangi berbagai tanaman di taman yang tampak amat segar, setelah mendapat asupan nafas kehidupan berkat hujan semalaman. 


Sementara berbagai jenis ikan yang ada di kolam kecil, tampak asyik bersendaugurau dengan pergerakan kesana-kemari penuh kelincahan.


Hijaunya dedaunan berbagai tanaman di taman, ditambah suara kecipak air mancur di kolam yang tiada henti, pun celetukan-celetukan burung parkit, membawa ketenangan tersendiri untuk batinku. Hingga terlupakan bila aku berada pada keterbatasan pergerakan raga. 


Keasyikanku menikmati hijaunya taman, lincahnya gerakan ikan, dan senandung tidak beraturan dari burung parkit yang ada di sangkar besarnya, terusik saat Rudy mendadak menyapaku.


“Om mau dibuatin kopi sekarang?” kata Rudy, sambil mengucek kedua matanya yang baru melek.


“O, kamu sudah bangun, Rud. Ya boleh juga buat kopi. Sekalian sama mie rebus ya, Rud. Pagi dingin gini, kayaknya pas kalau makan yang hangat-hangat,” sahutku, memandang Rudy yang berdiri di balik jeruji kamar.


Ketika aku menengokkan wajah ke arah kanan, tampak di ujung jejeran kamar, bos kamar 25 yang merupakan seorang bupati, sedang memandangiku. 


Saat melihat aku menengok ke arahnya, ia melambaikan tangan. Memanggilku. Spontan, aku bergerak. Menelusuri teras depan kamar tahanan untuk sampai ke kamar 25. Yang berada di paling ujung.


“Assalamualaikum. Sehat-sehat ya, Bos,” kataku, seraya menyalami pria berusia 40 tahunan itu, dengan penuh rasa hormat.


“Waalaikum salam. Alhamdulillah sehat. Bang Mario makin seger aja. Apa sih rahasianya, bagi-bagi dong,” tanggap sang bupati, sambil menebar senyum.


“Bisaan aja, Bos ini. Muka begini kusut, badan terus nyusut, kok dibilang segeran sih,” sahutku, juga sambil tersenyum.


“Nggak kok, bang. Fair ini aku bilang, muka abang kelihatan seger gitu. Kalau badan agak nyusut, ya wajarlah. Disini kan makannya asal perut kenyang, nggak kepikir soal gizinya,” kata sang bupati.


“Nggak ada rahasia khusus sih, Bos. Cuma aku lagi nyoba nggak batal wudhu. Jadi, kalau selesai buang air atau apa aja yang ngebatalin wudhu, aku langsung wudhu lagi. Niatnya sih, biar badan tetep bersih aja,” ujarku, apa adanya.


“Nah, itu berarti rahasianya, bang. Nggak lepas wudhu itu rupanya yang buat muka abang kelihatan seger gini. Boleh aku ikut nyobainnya ya, bang,” tutur sang bupati, kali ini dengan tatapan serius memandangiku.


“Ya bolehlah, Bos. Coba aja. Semua kita orang muslim kan, emang biasa wudhu. Nggak ada salahnya kalau kita wudhu walau nggak pada jamnya solat,” kataku lagi.


“Ini yang aku suka, bang. Mau berbagi ilmu. Aku pernah baca sebuah buku, disampein gini; kalau kamu melihat seseorang bertanya tentang ilmu dan berusaha mempelajari ilmu tersebut, maka hal itu pertanda bila Allah menginginkan kebaikan untukmu dan untuknya. Jadi, sadar nggak sadar, dengan abang mau nyampein rahasia muka seger ini, membuat kita berdua menuju pada kebaikan,” tutur sang bupati, dengan wajah serius. 


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tak menyana, bila pria berusia 40 tahunan yang menjabat bupati ini, memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup matang.


“Dan jujur, aku seneng berkawan sama abang. Orangnya care, nggak usil, dan nggak njelimet. Apalagi rutin ke masjid. Orang-orang kayak abang yang berpacu dengan waktu buat deketin diri sama Tuhan itulah, yang aku sukai,” lanjut sang bupati, beberapa saat kemudian.


Aku langsung istighfar di dalam hati. Badanku bergetaran. Seperti tengah terkena demam. Karena mendadak aku teringat petuah Mbah Kakung: jangan biarkan hatimu mendapatkan kesenangan karena pujian orang lain, karena kamu akan sedih dengan kecaman mereka. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler