Balada Seorang Narapidana (Bagian 186) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 186)

Selasa, 05 Juli 2022, Selasa, Juli 05, 2022


Oleh, Dalem Tehang


SETELAH di dalam kamar, aku membuka Alqur’an. Kembali mengaji. Meneruskan ayat demi ayat sebagai sambungan sebelumnya. Seraya membaca artinya satu demi satu. Hingga suara adzan Isya terdengar dari masjid. Aku solat di kamar. Dan kembali meneruskan membaca kita suci. 


Sipir yang menjalankan tugas apel malam hanya bertanya kepada Rudy. Mereka mendengar aku tengah membaca Alqur’an, sehingga tidak memanggilku untuk apel dengan berdiri di balik jeruji depan. 


Tidak lama kemudian, terdengar suara Basri masuk kamar. Pria berbadan pendek dengan postur gemuk, berwajah kaku dan tidak pernah tersenyum itu, membuka lemari pakaiannya, dan setelahnya masuk kamar mandi. Membersihkan badannya.         


Rudy tampak sibuk menyiapkan minuman dan makanan untuk Basri. Juga Dino. Kopi dan mie instan. Dilengkapi dua bungkus nasi yang dibeli dari kantin.


“Om mau dibuatin kopi?” tanya Rudy, ketika mengetahui aku sedang memperhatikan aktivitasnya. Aku hanya menggelengkan kepala.


Saat malam mulai semakin larut, baru tergerak hatiku untuk makan. Nasi dan lauk dari catering dapur yang sudah dipindahkan ke piring, menjadi makanan malamku. Dilengkapi abon yang masih tersisa.


Sambil makan, aku mendengar suara penuh canda dari taman depan kamar. Basri, Dino, dan beberapa petugas sipir sedang bercengkrama. Ditemani minuman hangat dan martabak. 


Sempat punya keinginan untuk bergabung, namun aku urungkan. Tidak ada dorongan kuat untuk merapatkan pertemanan dengan mereka. Aku merasa sudah terbiasa dengan kondisi tanpa basa-basi.


Aku lebih memilih membuka buku catatan harian. Dan menulis. Hingga tanpa sadar, aku tertidur dalam posisi telungkup dengan buku dan pulpen yang masih ada di atas kasurku.


Begitu nyenyaknya aku tidur, sampai kemudian terbangun ketika suasana rutan telah demikian sunyi. Di kamarku hanya suara mengorok Basri dan Dino yang terdengar. Seakan saling bersahutan dengan nada yang cukup kencang. 


Perlahan aku bangkit dari tempat tidur. Turun dari lantai atas. Mengambil air mineral dan duduk di kursi ruang depan. Tampak Rudy telah tidur dengan lelapnya. Di lantai ruang depan tempat aku duduk. Beralaskan kasur tipis. Berselimut kain sarung.


Aku buka pintu kamar yang hanya ditutupkan, tanpa digembok. Keluar kamar. Melihat sekeliling. Sunyi. Televisi di ruang masuk blok yang biasanya terus menayangkan beragam kabar dengan suaranya yang cukup kencang, tampak dimatikan. 


Praktis, hanya suara percikan air mancur dari kolam-kolam kecil yang ada di taman saja, yang terus bersuara. Menyenandungkan irama tanpa nada, namun menambah ketenangan di area penahanan.        


Aku kembali masuk ke kamar. Mengambil cangkirku. Mengisinya dengan minuman energen. Memanaskan air di teko listrik. Dan beberapa saat kemudian, aku duduk santai di taman depan kamar. Mengirup minuman yang slogannya mengenyangkan perut itu, ditemani sebatang rokok. 


Pikiranku melayang kemana-mana. Keluar kawasan kompleks rutan. Mengitari rumah. Masuk ke kamarku. Melihat istri dan cah ragilku, Halilintar, yang lelap dalam tidurnya. Di ranjang besarku.


Bulan, anak gadisku satu-satunya, masih asyik membuka laptopnya sambil merebahkan badan di kasurnya. Tetap memakai mukena, selepas ia Isyaan dan berwirid memuja-muji Allah Rabbul Izzati. Wajahnya teduh. Hatinya tenang. 


“Lagi ngelamunin apa, pak?” sebuah suara berat, mendadak membuyarkan pikiranku yang tengah bertandang ke rumah.


“Subhanallah. Lagi ngelantur aja pikiran ini,” sahutku spontan, dengan suara terbata akibat terkejut.


Aku menengokkan wajah. Barulah terlihat seorang pria berbadan tinggi besar dengan seragam dinas petugas keamanan, berdiri beberapa meter dari tempatku duduk. 


Wajahnya penuh dengan berewok tebal, dilengkapi kumis tipis yang tertata apik. Sorot matanya tajam, namun penuh keteduhan. Melihat pakaiannya, ia salah satu komandan pengamanan rutan.


“Maaf kalau buat pak Mario kaget. Dari tadi saya perhatikan, sepertinya pikiran memang sedang masuk ke sesuatu yang sangat jauh dari sini,” lanjut komandan pengamanan tersebut, sambil tersenyum.


“Bener, Dan. Pikiran saya lagi ngelambung ke rumah. Ngelihat istri dan anak-anak,” ujarku, berterusterang.


Pria seumuranku itu kembali tersenyum. Ia berjalan mendekat. Dan setelah menyalamiku dengan hangat, ia duduk di depanku.


“Mau kopi, Dan?” tanyaku, dengan menundukkan wajah, menghormat.


“Kalau ada, boleh juga, pak. Buat temen kita ngobrol,” sahutnya, tersenyum penuh persahabatan. 


Aku masuk kamar. Membuatkan kopi. Juga mengambil roti dan sebungkus rokok. Setelah kopi terseduh, aku keluar kembali. Dan duduk bersama komandan pengamanan rutan di taman. 


“Alhamdulillah. Kopinya pas bener ini, pak Mario. Tidak manis dan tidak pahit. Saya suka yang seperti ini. Terimakasih juga untuk rokoknya,” tutur pria petugas pengamanan rutan itu, tetap dengan tersenyum.   


“Alhamdulillah kalau pas dengan selera Komandan. Saya juga berterimakasih, Komandan sudah mau mengobrol,” kataku.


“Kalau boleh tahu, tadi apa yang sedang dipikirin?” tanya dia, dengan sorot mata serius.


“Pikiran saya sedang melayang ke rumah, Dan. Menemui istri dan anak-anak,” ujarku, polos.


“Bagaimana keadaan mereka?” tanya dia lagi.


“Alhamdulillah baik-baik saja. Istri dan anak bungsu sedang tidur. Nyenyak. Anak gadis saya, sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Dia tetap memakai mukenanya, sepertinya selesai solat,” kataku, mengurai apa yang aku rasakan.


Pria berbadan tinggi besar itu tersenyum. Sesekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sesaat kemudian, ia menatapku dengan tajam. Namun, yang aku rasakan, ada keteduhan dari tatapan tajamnya.


“Inshaallah istri dan anak-anak pak Mario baik-baik saja. Terus saja berpikir yang positif untuk istri dan anak-anak. Itu akan semakin menguatkan mereka. Ujian dengan pak Mario masuk penjara ini, nggak akan membuat mereka terpuruk kok. Justru menguatkan mereka. Yakini itu ya, pak,” tutur pria seumuran denganku tersebut, dengan kalem dan tetap melepas senyum.


“Aamiin. Terimakasih atas perhatian dan doanya, Dan,” sahutku dengan cepat.


Setelah kami berdiam beberapa saat, salah satu komandan pengamanan yang telah 10 tahun bertugas di rutan ini mengaku, memang menjadi kebiasaannya bila malam menjelang dinihari, ia berjalan sendirian mengelilingi kompleks rutan. Bukan hanya untuk memantau situasi kamar-kamar tahanan, tetapi juga mengecek langsung anak buahnya yang sedang bertugas.


“Saya jadi hafal, pada jam-jam seperti ini, tahanan di kamar berapa saja yang masih begadang. Masih main kartu atau catur dan yang membaca buku, menunggu kantuk. Termasuk, siapa saja tahanan yang rutin solat sunah pada sepertiga malam seperti ini,” urai dia, dengan suara berat.


“Jadi, kalau ada yang sedang berusaha kabur misalnya, pasti ketahuan juga ya, Dan,” ujarku, menyela.


“Pastinya ya terpantaulah, pak. Cuma saya bersyukur, selama bertugas disini, nggak ada tahanan yang mencoba kabur pada saat tim saya yang bertugas,” sahutnya, tetap dengan gaya khasnya; santai.


“Itu karena apa ya, Dan. Pendekatan yang baik atau apa?” tanyaku, memancing.


“Kalau menurut saya, karena pendekatan. Kita kan sama-sama manusia. Hanya kebetulan, tugas saya dan kawan-kawan sipir menjaga kawan-kawan yang sedang bermasalah dengan hukum. Yang salah itu kan perbuatannya, bukan manusianya. Jadi kalau buat saya, kita semua ya sama. Tidak mau saya merendahkan. Tetapi kita harus saling menghormati. Dengan begitu, semua tahanan tetap merasa nyaman disini. Utamanya saat tim saya yang bertugas,” kata komandan pengamanan rutan itu, panjang lebar. 


Aku mendengarkan perkataannya dengan cermat. Aku merasakan, pria berbadan tinggi besar ini memiliki keilmuan yang sangat dalam. Bukan hanya ilmu lahiriyah tetapi juga batiniyah. Sebuah keseimbangan kemanusiaan yang mumpuni. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler