Balada Seorang Narapidana (Bagian 184) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 184)

Minggu, 03 Juli 2022, Minggu, Juli 03, 2022


Oleh, Dalem Tehang


SUARA tamping kunci yang membuka gembok kamar-kamar, terdengar bersahutan. Pertanda waktunya keluar sel bagi penghuni rutan. 


Berhamburanlah penghuni setiap kamar di sepanjang teras Blok B, dan menuju luar blok. Untuk mencari angin segar serta mengisi kegiatan masing-masing.


Pak Sibli dan Ino mendatangi aku dan pak Edy yang masih duduk di gazebo. Keduanya telah membawa kain sarung dan memakai kopiah. Bersiap untuk menjalankan solat Ashar berjamaah. 


“Wah, sudah siap ke masjid ya? Kan belum adzan,” kata pak Edy, begitu melihat pak Sibli dan Ino, mendekat ke gazebo.


“Baiknya, nggak usah nunggu adzan, kap. Ayo kita ke masjid sekarang aja. Bisa solat sunah atau baca-baca qur’an dulu,” sahut pak Sibli.


Meski tampak enggan, namun pak Edy akhirnya bangun dari tempat duduknya. Dan masuk kamarnya. Mengambil kain sarung serta kopiah. Aku pun bergerak cepat. Menuju kamarku.


Saat mengambil kain sarung dan kupluk, harus aku lakukan dengan perlahan dan hai-hati. Sebab, sipir Mirwan masih tertidur pulas di kamarku. Tepat disamping aku menaruh peralatan solat. 


Akhirnya, kami berempat keluar Blok B dengan satu tujuan. Masjid. Di depan kami, tengah berjalan pak Anas, pak Waras, dan Asnawi. Menyusul di belakang kami ada Aris, Dika, dan Iyos. Serta puluhan penghuni rutan lainnya.


“Babe, jalannya pelan aja sih. Biar sampai masjidnya bareng,” tiba-tiba Aris berteriak.


Spontan, aku menghentikan langkah. Menunggu Aris yang berjalan bersama Dika dan Iyos. Pandanganku mengarah ke kakinya. Aris memakai sepatu.


“Ngapain kamu ke masjid pakai sepatu, Ris? Kayak mau kondangan aja,” kataku, seraya menunjuk kakinya.


“Kata Aris, sengaja dia pakai sepatu, bang. Karena ada filosofi yang lagi dia kagumi,” Dika yang menjawab.


“Maksudnya apa ya?” tanyaku, terheran.


“Herankan? Nah, itulah seninya bersepatu. Tapi nanti aja aku ceritainnya ya, be. Sekarang kita konsen ibadah di masjid aja dulu,” kata Aris, sambil memeluk dan menggandengku untuk meneruskan langkah menuju masjid, melaksanakan solat Ashar berjamaah. 


Seusai melaksanakan jamaahan dan berdoa, aku duduk di tangga masjid. Menunggu kawan-kawan. Utamanya Aris. Yang berpenampilan tidak biasa petang ini.


“Babe nunggu aku ya? Penasarankan, kenapa aku bersepatu?” kata Aris, yang tiba-tiba duduk di sampingku.


Ku pandangi wajah pria berlatarbelakang politisi dan pengusaha sukses ini. Tampak penuh keceriaan. Tidak ada lagi satu gurat kegalauan di wajahnya. 


Aku bersyukur di dalam hati, berarti kini  batin Aris telah berada di dalam langgam ketenangan. Dan ketenangan itulah yang membawa kebahagiaan, yang berujung dengan memancarkan sinar keceriaan. 


“Coba ceritain ke bang Mario, kenapa pakai sepatu dan filosofi apa yang didapet,” kata Dika, yang juga telah duduk di sebelahku, sambil memandang Aris.


Aris tersenyum, dan disusul dengan ketawanya yang khas. Lepas. Tanpa beban. Aku dan Dika hanya memandangi ekspresi keceriaan Aris tersebut.


“Aku sengaja pakai sepatu ini, buat kasih tahu sama Dika dan Iyos. Kalau sepatu pun sebenernya punya nilai filosofi yang bisa kita jadiin pelajaran hidup,” kata Aris, beberapa saat kemudian.


“Emang filosofi apa yang kamu bisa sampein, Ris? Jangan lama-lama ngebuat orang penasaran,” kataku, menyela.


“Ini pelajaran dari sepatu yang mestinya sejak dulu kita pahami, be. Dengerin ya. Sepatu itu, saat berjalan nggak pernah kompak, tapi tujuannya sama. Nggak pernah ganti pasangan, meski sudah usang karena dimakan usia. Kalau yang satu hilang, yang lain nggak punya arti lagi. Kalau yang satu sakit akibat robek hingga harus dijahit, yang satunya setia menunggu. Dan nggak pernah ganti posisi, namun saling melengkapi. Itulah filosofi sepatu yang aku ketahui,” kata Aris, menjelaskan panjang lebar.


“Hebat kamu, Ris. Bisa cerdas gitu nemuin pelajaran dari sepatu,” tanggapku, sambil menepuk bahunya dengan rasa bangga.


“Aku bukan penemu filosofi sepatu yang ku sampein tadi, be. Cuma baca dari tulisan orang. Dan ternyata mengena. Minimal buatku sendiri,” sahut Aris.


“Walaupun bukan penemunya, tapi kita tahu soal ini kan dari Aris ya, be. Berarti sadar nggak sadar, Aris sudah nularin pengetahuannya buat kita, dan itu ibadah. Artinya berpahala,” kata Dika, menyela.


“Iya, bener, Dika. Ilmu pengetahuan yang bermanfaat buat orang lain itu berujung pahala. Hebat kamu, Ris,” ucapku kemudian.


“Tapi jelas-jelas dulu, Ris. Sebenernya filosofi sepatu itu bisa ngerubah kebiasaan ke masjid dari pakai sandal ke sepatu ini kan, pasti ada sesuatu yang bernilai buatmu,” Iyos menyampaikan pendapatnya.


Aris tersenyum. Tetap penuh keceriaan. Ia mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Iyos yang berdiri di depan kami. 


“Kamu emang cerdik, Yos. Bisa ngebaca dibalik yang aku sampein dan ekspresiin sore ini,” sahut Aris, melepas senyum manisnya.


“Ya sudah, jelasin dengan gamblang, apa yang kamu dapetin dari filosofi sepatu ini, Ris,” kataku, tidak sabar.


“Pelajaran dari sepatu itu, aku tulis di kertas dan ku kirim ke istriku yang masih jalani perawatan di rumah sakit. Tahu apa yang terjadi? Lewat teleponnya pak Bos di kamar 25, istriku bilang kalau dia nggak jadi ajuin gugatan cerai,” kata Aris, dengan suara penuh ketenangan.


“Alhamdulillah. Beneran gitu, Ris?” sahutku, dengan cepat.


Aris menganggukkan kepalanya. Tegas. Mantap. Dan spontan memelukku. Penuh keharuan. Ada air menetes dari sudut matanya. Air mata bahagia.


Aris juga memeluk Dika dan Iyos dengan bergantian. Berbagi kebahagiaan dalam keterharuan. 


Mendadak hujan rintik turun begitu saja. Tanpa pertanda apapun sebelumnya. Seakan, alam pun turut berbahagia atas apa yang dialami Aris. Mengucurkan air kedamaian.


“Kok bisa begitu besar sugesti filosofi sepatu itu buat istrimu ya, Ris. Sampai-sampai dia mengambil sikap sepenting itu,” ujarku, beberapa saat kemudian. Diliputi keheranan.


“Allah yang ngaturnya, be. Aku juga nggak ngerti. Yang kepikir waktu itu, setelah baca rangkaian kata soal pelajaran dari sepatu yang aku dapetin di koran bekas yang ada di kamar, aku pengen nyalinnya dan kirim ke istri. Biar dia paham, kayak sepasang sepatu itulah mestinya kehidupan suami istri,” sahut Aris, mengurai.


“Pakai doa-doa nggak waktu nulisnya, Ris?” tanya Iyos.


“Baca Bismillah aja. Nggak ada doa-doa lain. Lagian, aku kan emang nggak bisa  berdoa pakai bahasa Arab kayak orang-orang. Paling doanya, ya pakai bahasa Indonesia aja. Toh, Allah maha mengetahui,” jawab Aris. Enteng.


“Alhamdulillah. Banyak-banyak terus bersyukur ya, Ris. Kalau Allah sudah berkehendak, nggak ada yang bisa ngehalangi. Ayo, kita balik ke kamar,” ujarku lagi.


Aku, Aris, Dika, dan Iyos pun beranjak dari masjid. Berjalan bersama menuju blok tempat penahanan. Sementara di lapangan samping masjid, belasan orang sedang bermain sepakbola. Ada juga yang bermain volly. 


Sedang ratusan lainnya duduk berjajar di sepanjang selasar, sambil berbincang dengan sesama. Pun puluhan tahanan memenuhi kantin koperasi rutan. Menikmati panganan menjelang senja.


Sebuah siklus kehidupan di penjara yang tetap membawa keindahan untuk dijalani. Sepanjang penerimaan atas pengungkungan kebebasan lahiriyah ini, sudah mengental di dalam jiwa dan pikiran. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler