Buku Puisi Sungai Aare Sebagai Takziah 100 Hari Eril -->

Buku Puisi Sungai Aare Sebagai Takziah 100 Hari Eril

Jumat, 10 Juni 2022, Jumat, Juni 10, 2022
                Pria Takari Utama 

INILAMPUNG.COM, Bandung -- Sejak dikabarkan Emmeril Khan Mumtaz atau biasa disapa Eril, putra sulung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, hilang terseret arus sungai Aare, Bern, Swiss, sejumlah penyair menulis puisi duka cita sebagai bentuk dari sense of humanity

Puisi-puisi yang ditulis para penyair Indonesia itu tersebar di media sosial, seperti IG, FB, maupun grup WA. 

Pria Takari Utama, penyair, menginisiasi penulisan buku puisi tentang tragedi Sungai Aare. Pertama dibagikan di laman FB-nya hanya beberapa puisi dari para penulis. Lalu mendapat respon luar biasa dari penulis lainnya.

Para penyair yang menulis puisi tragedi Aarre membagikan di kolom komentar. "Kemudian saya pindahkan untuk di susun," kata Takari, saat diwawancara berada di Tunisia, Jumat (10/06/2022).

Ia tak muluk-muluk soal buku puisi ini yang direncanakan akan terbit. Termasuk jumlah penulis dan karya. "Lazimnya, 25 sampai 30 puisi sudah cukup untuk suatu antologi puisi," katanya.

Dikatakan Takari, awal mengumpulkan puisi-puisi tentang Eril dipicu setelah mendengar kejadian yang menimpa Eril, tiba-tiba dia terisak. Meneteskan air mata. Nurani sebagai ayah yang juga memunyai anak sebaya Eril, tersentuh. Langsung menangis. 

"Saya dapat rasakan bagaimana perasaan Pak RK (Ridwan Kamil, red.), ayah Eril atas kehilangan anaknya. Padahal saya tak kenal Eril dan bapaknya. Bahkan, ada yang namanya Eril dan itu anak dari Pak RK, saya juga baru tahu dari media sehubungan tragedi Sungai Aare," katanya.

Takari menjelaskan bahwa dirinya juga punya anak yang dulu sekolah di Prancis, Eropa Barat. Anaknya juga suka jalan-jalan bertualang ke berbagai tempat sampai ke Swiss. Sampai main ski segala ke pegunungan Alpen. Ia antusias menikmati dan tadabur alam. Kalaupun tak ada teman jalan bareng, sendiri pun ia tetap pergi. 

"Terbayang betapa terpukulnya jika kejadian itu menimpa anak saya. Saya hanya orang biasa. Berbeda dengan Eril, yang bapaknya tokoh publik."

Masih kata Pria Takari,  atas kejadian Eril, banyak pihak turun tangan, langsung maupun tidak langsung membantu proses pencarian Eril.
 
"Berjuta-juta doa dilantunkan. Alhamdulillah jasadnya sudah ditemukan dan dibawa pulang ke tanah air," urainya. 

Bicara soal tragedi, lanjut dia, yang bicara hati nurani. Tak peduli menimpa siapapun, apakah terjadi pada keluarga rakyat biasa maupun keluarga tokoh publik pejabat tinggi. Siapapun, orang yang hati nuraninya halus, lebih-lebih penyair, pasti tersentuh. Ini terbukti banyaknya puisi yang masuk dari para penyair se-Nusantara. Para penyair kita begitu besar kepedulian dan kepekaanya pada soal kemanusiaan dan kehidupan.

Takari menjelaskan, ia mendapatkan puisi-puisi awal tentang Eril dari membaca yang diposting teman-teman penyair pada grup WA “Wartawan Penyair Indonesia”. Juga postingan teman-teman di FB. 

"Lalu, saya  juga menulis puisi tentang Eril. Saya menulis puisi sambil menangis. Mengharukan semuanya." 

Dalam perjalanan ke Bandara Soeta ketika mau terbang ke Tunisia hari itu, ceritanya, spontan muncul ide mengumpulkan puisi-puisi tersebut. Teman-teman penyair ternyata menyambut antusias. Mengumpukan puisi bertema soal Eril, mengetuk hati terdalam kemanusiaan kita. Kiriman puisi terus mengalir sampai hari ini. Bahkan penyair Adri Sandra, pemegang rekor MURI atas puisi terpanjangnya, mengirimkan  puisi dan karya vinet sekaligus. 

Ia berniat, puisi-puisi tentang Eril atau sungai Aare dapat dibukukan untuk suatu kegiatan lieterasi. "Ya, harus ada target untuk dibukukan. Agar monumental dan tercatat dalam sejarah literasi kita. Jadi, tidak sekadar postingan di medsos," kata Takari.

Dirinya akan minta tolong temannya yang seorang seniman untuk bantu desain cover buku dan tata letaknya.
 
"Soal dana untuk penerbitan buku ini, belum kepikiran entah dari mana sumbernya. Pokoknya niat saja, Insya Allah nanti Tuhan pasti bukakan jalannya. Aamiin."

Setelah terbit buku tersebut, ia berencana akan berkomunikasi dengan keluarga Kang Emil. Mengusulkan buku ini diluncurkan pada peringatan 100 hari kepergian Eril. 

"Bagaimana teknisnya nanti, masih kita akan diskusikan bersama pihak terkait," kata Pria Takari Utama.

             ilustrasi karya Alfin Rizal


Berikut puisi-puisi tentang Eril yang telah dihimpum Takari Utama.

ERIL, DALAM UNTAIAN KATA 
PARA PENYAIR INDONESIA

Abrory Djabbar:
AARE

Sungai itu hijau tosca
Mataku terpana menatap alirannya
Jauh dari hulu pegunungan Alpen 
ia meliuk berdansa

Sungai itu hijau tosca
Dari atas jembatan di Interlaken
aku menyapanya
Ia menoleh dan tersenyum 
Begitu menggoda

Ah,
Seru sekali 
aku ingin sekali terjun berenang 
menikmatinya

Aare
Kau begitu jelita
Riangmu  gadis remaja saat tertawa

Desember itu
salju bertumpuk 
udara memeluk 
Aku melayari Aare 
hingga ke danau hening berbatas hutan 
Terhenti kusebut namamu
Berlinang air mata 

( O Pengembara, 
Kau  paham
Bahwa Rindu tak bisa pergi,
Tak pernah hilang dan tenggelam
Ia hanya sembunyi 
menantimu di sana )

Jakarta 01 06 2022

Doa bagi kang Ridwan Kamil dan keluarga,
Semoga diberikan kekuatan dan keikhlasan

♻️

Ewith Bahar:
SEORANG AYAH DI BIBIR SUNGAI

Seorang ayah di bibir sungai
Kehilangan jejak, 
mencari sebuah alamat

Langkahnya berputar-putar dalam labirin tanpa ujung
Mempertarungkan rasionalitas dan harapan yang minta dipertahankan

Seorang ayah di bibir sungai
Berbicara kepada air dengan zikir yang basah
Selaksa kata berjejalan dalam jantung
Yang ingin benar ia ucapkan pada yang ia cari

Selapis hijab maha tipis telah menjadi penyekat
Antara dirinya dan seseorang yang bersemayam dalam sungai
Tak tersingkap, tak tertebus meski oleh cinta sebesar pegunungan Alpen

Seorang ayah di bibir sungai
Mengumandangkan azan
Komunikasi yang begitu lembut dan dalam kepada Dia yang di Arasy
Dengan gigil yang belum pernah ia rasakan
Aare yang tak kompromistis hening sejenak
Menyaksikan dua atma berangkulan dalam saling pengertian di hadapan Tuhan.

♻️

Ewith Bahar:
TEMPAT PULANG YANG SEMPURNA

tak pernah ada jalan
sepanjang dan seagung ini
kecuali pada leliku sungai
yang airnya seperti melambai-lambai
memanggilku dengan suara kudus yang lirih

di dalam lorong yang lengang
aku meluncur lekas ke palung luas
tak mampu menepis panggilan
terasa begitu ganjil sekaligus menenangkan

tak pernah kukira
sungai bisa begitu sakral
memeluk sekujur jiwa dengan basah yang penuh cinta
seketika ketakutan bertukar menjadi kepasrahan
kecemasan yang tadi menggila kini seperti sebuah ekstase
aku telah pulang rupanya
ke rumah yang begitu ramah
rumah yang dibangun dengan elemen-elemen dingin
sesuatu yang begitu mengundang
ketika aku berdiri di tepi sungai berkelir zamrud tadi
hanya saja, ia ternyata terlalu jelita
sehingga ruhku enggan kembali
dari tempat pulang yang sempurna ini.

(RIP Eril)

♻️

Handrawan Nadesul:
ERIL,
BIAR LELAP TIDURMU

Berkali-kali duduk di sini
merapatkan hari-hari semakin kelam
hanya ingin menunggumu 
mana tahu ada menyisa bayang-bayangmu
di tengah kilau sungai dan dedaunan rimba
bisakah kudengar suaramu lagi
tawa kecilmu yang kurindu
hanya deru anginmu

Kupandang terus panjang cakrawala
yang kutemukan fatamorgana
teringat wajah kecilmu
berlari-lari mengepung capung telaga
saat-saat pernah berharap
kelak kepakmu akan terbang jauh
menempuh hari tempat berlabuhmu

Telah patah kini rantingku
baju tidur di kamarmu penghiburanku
sayangku kepadamu perhiasan hidupku

Kini hanya kulihat sehelai daun jatuh
jauh dari tanganku
tak tahu ke mana melarung daunmu
biar kelambu semesta kita
menjaga lelap tidurmu.

(Surat kecil dari Ibumu)

♻️

Handrawan Nadesul:
ERIL, 
CAHAYA ITU TERNYATA ADA

Eril,
suatu hari di sana,
di sebuah tikungan ladangmu
ternyata cahaya itu ada

Kulihat ujung jemarimu
kini menyeka hatiku

Biar tetaplah luruh daunmu di sana
akan terjaga lelap tidurmu
di bawah kelambu semesta kita 

Ingin kukirim anginku untukmu
menyeka hatimu
mengendurkan rinduku.

(9 Juni 2022 - Setelah hari yang ditunggu itu tiba: mencoba merasakan irisan hati ayah-ibunya)

♻️

Isbedy Stiawan ZS:
SUNGAI INI TAK AKAN BERHENTI

sungai ini tak akan berhenti
hanya di arus airnya; sebab kita
telah mencatat. biarpun perih
maupun riang

sungai ini tetaplah sungai. deru 
airnya, elok tubuhnya. kita telah 
basuh tubuh di sana. di dingin 
ataupun lebih dari itu 

namamu terpatri. tanganku 
membekas di sana. ketika 
datang untuk menjemput 
maupun sekadar menyeruput

sungai ini, sayang, tak akan
pernah berubah nama. ada air 
di sana. juga air mata 
yang sedih menunggumu 

biarpun jauh pergi 
sungai ini tetap menyimpan 
namamu dalam arusnya...

3 Juni 2022

Isbedy Stiawan ZS:
MASIH DI TEPI SUNGAI INI

rasanya ingin lama di sini;
tepi sungai yang merahasiakan
namanama. baik untuk yang 
datang maupun bagi yang pergi

arusnya tetap tak berubah; 
begitu dingin wajahnya
demikian tenang geraknya
kepada siapapun. tamu 
                atau kekasih

masih ingin lama diri di sini,
rasanya ingin membuat rumah
untuk tidur dan senandung
yang riang, mengubur sedih
biar hanyut makin dalam 
tapi, namamu yang hilang 
apa bisa dilupakan? 

sapa keheningan
air mata yang tak mungkin
terhapus beberapa hari 
apakah akan jadi sungai juga
mengalirkan namamu

2 Juni 2022

♻️

Anto Narasoma:
PERCINTAAN MAUT DI SUNGAI AARE

sepekan aku bersimpuh
mencari-cari di antara ombak dan buih sungai aare sepanjang 250 kilometer, yang datang mendekap erat ajalmu

lalu apakah sampanmu menepi di tepian sungai yang membasahi air mataku, emmeril kahn mumtadz?

di antara biru airmu,
ratusan mata menyorot tajam ke celah bayang-bayang dirimu ; yang raib
di balik usia

maka bacaan surat yasin  menebar kian kemari,
menggapai nyawamu
yang diam dan sunyi
hingga tepian sungai aare
menjadi makam keabadian
wajahmu yang sejuk

o emmeril kahn mumtadz,
inilah salat ghaib 
yang memancarkan cahaya
jika kau tersesat 
ke celah-celah kegelapan 
di dasar sungai ini

maka kecemasan kami
tak pernah mengabaikan
artimu sebagai cinta
di kedalaman sungai

sebab  serpihan angin
yang melambai 
dalam sal putih itu,
mengelus halus antara wajah dan kenangan pada senyummu

o emmeril kahn mumtadz,
kemana ayah ibumu mengantarkan 
kasih sayang, setelah 
kehadiran ajal
mendekap kematianmu?

sungai aare, bern swiss
adalah kenangan maut
yang memberi warna kematian abadi, 
di antara buih-buih ombak
kepergianmu

kapan airmu surut
mengembalikan senyum yang telah mencair 
dalam kesendirianmu,
emmeril?

4 Juni 2022

♻️

Pria Takari Utama:
SEBENING AIR AARE

Tak banyak raga yang ada di dermaga kala  itu. 
Tapi setelah lambaian tanganmu, jiwa-jiwa dari Nusantara dan dunia berkerumun ke tepian. 
Air mata mengalir. 
Berkejaran dengan aliran arus sungai Aare. 

Kita tak saling kenal. 
Bahkan baru tahu dirimu setelah tragedi itu. 
Namun, sebagai orangtua. 
Yang juga punya anak-anak sebayamu. 
Pilu kami menggumpal-gumpal. 

Lantunan suara azan ayahmu.
Yang dikumandangkan dari dermaga. 
Disambut, diulang bersaf-saf takbir.
Mengalir sampai ke tulang sulbimu.
Menyelimuti jiwamu. 
Mengafanimu. 
Sesejuk, sebening  air Aare. 
Yang membasuh jiwa. 
Begitu segarnya. 

Istirahatlah bersama asamu. 
Bersama nikmat kepulangan pada Illahi. 
Bahwa kita semua pasti ke sana.
Tak peduli  kata orang: jika sangat mirip dengan ayahmu, salah seorangnya biasanya pulang lebih awal. 
Tidak begitu. 
Semua kita pasti pulang. 

Jakarta, 4 Juni 2022.

♻️

Akmal Nasery Basral:
ERIL

Masa depan adalah 
lelehan salju yang berbaur
dengan gelombang air
dan kecipak takdir

Di Aare musim semi
memucat menjadi lara
dalam tasbih bebatuan, lumut dan dingin sungai

Nak,
kamu kini tiada
tetapi akan selalu ada

dalam hangat doa. 

O3.06.22

♻️

Kurnia Effendi:
DI SUNGAI ITU

Hulunya mungkin di surga
Aare mengalir dan memanggil: 
Eril

Pemuda itu--di pangkal musim semi--seketika 
Mengetahui rahasia alam
Utuh: mendalam dan jauh

Kelindan doa dalam wujud air mata
Dan serak azan mengantarnya

Kini duka itu kembali bening
Kembali hening
Seperti dasar sungai yang tampak
Dari jiwa transparan
Mewakili ucapan:
"Kukembalikan kepada-Mu, Tuhan."

Jakarta, 3 Juni 2022

♻️

Linda Djalil:
PERGILAH JIWA YANG TENANG KE TEMPAT YANG NYAMAN... 🙏

Seorang ayah menyisir pinggir danau. Asanya melambung menemukan sang buah hati. Tumpuan keluarga. Harapan mulia. Yang selalu menjadi pelipur lara kekerasan cobaannya di kursi tertinggi kawasannya. 

Anak lelaki pujaan ayahanda tetap tak ada. Arus air deras bagai tak memberi maaf. Bahkan sepotong sisa baju renangpun tak bersisa.

Maka sang ayah meraup tangan istri dan putrinya, menuju pulang dengan rasa pedih hampa luar biasa.. Hanya sekelumit ikhlas yg harus ditata. Untuk pemuda terkasih yg diyakini  sedang menuju surga...

Juni 2022

♻️

Hendra Idris:
𝗔𝗔𝗥𝗘 𝗕𝗘𝗥𝗠𝗔𝗧𝗔 𝗕𝗜𝗥𝗨
--𝘵𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘦𝘳𝘪𝘭

aare bermata biru,
kau selalu menggoda.
kautawarkan sejernihnya nur, 
 kaupercikan raut-raut 
yang membubung dan menggumpal-gumpalkan hasrat sekadar  bersalsa denganmu

aare bermata biru,
kau sangat nakal.
kauumbar kemolekanmu yang meliuk-liuk sepanjang dua ratus delapan puluh delapan kilo meter
:  tiada kuasa menafikan bujukanmu untuk berdansa  

aare bermata biru,
kau sungguh memesona.
tatapanmu menusuk siapa pun, pasti ikut terlena bersamamu

aare bermata biru,
kau memang bidadari di sudut alpen.
tapi kau sungguh tega!
: "ke mana eril kaubawa menari
hanya untuk meregang ajalnya?"

Malang, 7 Juni 2022

♻️

Hendra Idris :
SEPENGGAL KISAH PERJUMPAAN AARE DAN ERIL

eril mengenalkan aare kepada  ibu dan adiknya
: siapa aare?

ndilala, aare membuncahkan rasa takjub pada eril

seketika itu aare menggapai eril lalu merengkuhnya, mengajaknya bermain-main, dan menyusuri sungai 
: eril seakan merasakan dalamnya cinta kepada sang Maha Pencipta.

aare memeluk
mengitari,
dan memendar-mendar 
seperti melabirin di hati eril di sungai yang menghampar tenang
: eril tak sanggup melepas buhulan dekapan aare nan erat 

"eril memang istimewa!" teriak aare jumawa
: ia melulu melarut memeluk, mendekap, dan memborgol jiwa raga eril

 tapi belaiain aare sungguh memuncrat sesak di atma eril
karena aare seakan tak membiarkan eril meninggalkannya begitu saja
: "kuingin kau tetap bersamaku!"

Malang, 8 Juni 2022

♻️

Oce Satria:
PADA HARI ENGKAU DIAMBIL

Pada hari engkau telah berangkat
kami seolah sedang tarik menarik dengan pemilikmu
beribu-ribu doa dan isak mencoba menarikmu kembali dan tak boleh pergi meninggalkan kami,

tapi melawan kehendak Rabb-mu, apakah kami kuasa?

sebab gempa karena isak dan tsunami air mata kami ternyata bukan tandinganNya.

Pada hari engkau dijemput
kami seolah sedang memungut sisa-sisa kenangan kami tentangmu,
yang datang di ruang-ruang maya kami,
cerita tentang apa-apa saja yang baik tentangmu.

Beribu-ribu gambar dan suaramu tahu-tahu telah menyelinap di ruang-ruang sukma kami
atau menghampar di mata dan telinga.

tapi menyimpan ingatan tentangmu, kutakutkan engkau akan terguncang karena kutahu engkau tak hendak menandingi Rabb-mu

Pada hari engkau diambil
kami seolah sedang berpura-pura menggigil menahan ketakutan tak lagi membaca cerita petualanganmu, 
sebab kami tahu, kami tak benar-benar tahu di mana engkau akan berakhir,

Pada hari engkau tiada, kami ingin meniada
dari luka dan sesal fana, menyusulmu
Tapi, apakah kami sanggup berangkat tanpa bekal?

Juni 2022

♻️

Gusma:
AARE DAN DUKA KAMI 

Hangat nya zikir mengiringi pencarian
Merajut waktu
Mengukir rindu
Melukiskan duka cita yang dalam

AARE dialiranmu kutebar doa
Berselimut hati lara
Tanpa jeda
Hanya kelu sebuah penantian

Dibatasi waktu
Disunyi hati kami
Tiada kekuatan kecuali kekuatan Allah
Merekah zikir tanpa henti
Tanpa meratap
Bersemayam rasa percaya
Hanya sang khalik yang mengatur
Semoga
Jalan terbaik untuk memutuskan resah
Gelisah
Desah pilu

Pada mu ya Robbi
Kami titipkan impian
Ikhlas
Sabar
Dan yang paling indah seindah tempat
Mu yang terindah

Padang diantara gerimis
Titipan syair untuk putra bapak RK

♻️

Vito Prasetyo:
ADA DUKA MENGALIR DI SUNGAI AARE

: Sungai Aare

sebening cahaya di hulu sungai
tidak lagi mengalir teduh 
seakan merajam ingatan
menjelma nyanyian sunyi
dan senandungkan cemas di tatapan kita
esok mungkin menjadi sembab 
di bibir sesal yang kibaskan naifnya gema puisi 

hanyalah gemericik air
mengalir di tubuh-tubuh mungil
hingga sajakku harus bersimpuh
dalam gigil dekap duka
mengeja perlahan nama Eril di bibir sungai
adakah rindu semerbak lantunan lafal
yang menakwilkan semesta surga
hingga Sungai Aare menjemput jalanmu pulang
menuju tempat kekal

Eril, setipis senyum di bibirmu
seakan itu adalah kesunyian yang paling nyeri
hingga sajakku bergegas
membasuh diri dengan doa
meski tak mampu kutahan
butiran air bening yang menggenang di pelupuk mata orang-orang 'kaucintai

Malang, 10 Juni 2022

♻️

Ence Sumirat:
LIRIH AARE

pada biru air
doa mengalir

melepas kepulangan
sosok kerinduan

sebuah kesaksian
cinta dan kematian

2022

♻️

Adri Sandra:
SUNGAI DI KOTA TUA

siapakah yang menyaksikan sehelai daun gugur, tenggelam dalam mata burung Swift?

di hadapan kota tua Bern dan sungai biru kristal
lengkung kepaknya seperti bulan sabit , turun dari hijau hutan pegunungan Alpen, terjangkar di kaca-kaca gedung kota
barangkali, desah hujan dari jauh memudarkan pandangan
pada perahu-perahu mesin, dalam lali udara dan cuaca keruh

Aare, begitulah kami mengenalmu ; matahari yang mencairkan musim dingin
pada gemuruh air terjun dan jembatan Granary yang tak bisa kami tempuh

bulan hitam memancar di uap buihmu
kami tak melihat hujan sampai di sini
selain gerimis membasahi bulu-bulu burung 
Swift, miang memisah dari kelopak tebu 
dan mendung tempat duka berteduh

Eril, lelaki itu datang dari jauh ; mengetuk pintu kotamu
memandang gunung dan sungai dengan damai
muncul bersama fajar
mensejajarkan cahaya dengan pohon-pohon
mengukur bayang-bayang yang sama

tapi, takdir telah membaringkannya pada biru kristal sungaimu
sebelum purnama ia sentuh, dan seluruh pulau hilang dari pandangannya

o kota tua, alir sungaimu telah menyandarkan jasadnya di bendungan Engehalde
gemuruh air terjunmu , keras membentur isi dada kami
duka itu, lebih panjang dari alir sungaimu

"Aare, Bern ; izinkan kami pulang
melepas Eril pada Yang Satu!"

Payakumbuh, 2022 )

♻️

Fitri Angraini :
HATI IBU 

kalau hati ibu terbuat 
dari baja, akan lebur juga 
ketika anak meninggalkan
di tepi aare ini, ingin dikuatkan
hati sekokoh baja
setegak gununggunung julang
tapi, luluh juga. meleleh 
dan lebur juga

hati ibu mana yang kuat 
menerima anaknya wafat?

di aare ini, sang ibu berdoa;
tunjukkan arah anak ditemukan
arahkan langkah agar 
tiba di wajah anak. aamiin

10 Juni 2022

♻️

Feed Jurney:
MONUMEN CINTA IBUNDA
(Surat dari Ananda Eril)

Pepohon rimbun pagar rumah kita,
kini merangas oleh musim yang kerontang,
kemarau dari orang-orang terkasih
yang pergi satu persatu,

Disepikan oleh waktu, tapi  tiada henti menyiram asa
Dalam balut keriput yang direnggut usia, ia menadah doa

Asa apa yang ia pendam
pinta apa yang ia peram,
aku  mungkin tak mampu menyiginya.

Aku, selalu ingin menggenggam  jemari tangannya, 
lalu berbisik takzim di jantungnya, 
bahwa aku tetaplah bocahnya yang bandel namun selalu diam saat diomeli

Aku tak pernah ingin dewasa dan tua untuk ibunda.

Sejarah ini, sejarah yang kukarang,
bukan menyusun nama-nama,
tapi deburan cinta yang tak sempat kulirihkan,
atau kata cinta yang tak sempat kumonumenkan,
Sementara, aku lena di negeri entah

Ibunda, tetaplah siraman doa kumohonkan

Juni 2022

(bdy/inilampung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler