Balada Seorang Narapidana (Bagian 180) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 180)

Rabu, 29 Juni 2022, Rabu, Juni 29, 2022


Oleh, Dalem Tehang     

    

OM, minum dulu teh anget ini. Biar badannya cepet normal lagi,” tiba-tiba suara Rudy mengejutkanku.


Ruhku yang tengah mengangkasa, sontak kembali ke ragaku. Menyatu. Tergagaplah aku. Sambil menatap Rudy, ku terima gelas berisi teh hangat yang baru dibuatnya.


“Terimakasih, Rud,” ucapku, seraya dengan perlahan mengirup minuman hangat yang baru saja diraciknya.


“Apa om mau dikerik? Biasa kerikan nggak?” tanya Rudy. Tampak ada kekhawatiran di wajahnya melihat kondisiku.


“Nggak usah, Rud. Om mau istirahat sebentar. Setelah itu mau solat aja,” sahutku.


Setelah merasa keseimbangan pikiran dan perasaan terkendali, perlahan aku turun dari kasur dan menuju kamar mandi. Wudhu. Dilanjut dengan solat sunah. 


Seusai solat, tergerak hatiku untuk berdzikir. Ku ambil tasbih. Mulailah aku membaca wirid. Situasi rutan yang sunyi, menambah keasyikanku menguntai puja-puji kepada Ilahi Rabbi. 


Udara dan mendung yang menggantung di langit atas rutan pun, aku bayangkan, tengah gemulai berarak, ikut melantunkan puji-pujian kepada Sang Penguasa Alam Semesta. 


Kesyahduanku itu terhenti, saat terdengar adzan Subuh dari masjid di dalam kompleks rutan. Selepas subuhan dan membaca surah yasin, terasa badanku ingin istirahat. Aku pun tertidur. 


Sampai pelaksanaan apel pagi, seorang sipir yang bertugas langsung masuk kamarku dan melihatku masih tidur.  


“Tumben ini om Mario masih tidur,” kata sipir itu, seraya berjalan kembali keluar kamar.


“Lagi agak kurang sehat semalem, pak. Tidur juga sudah habis subuhan tadi,” jelas Rudy. 


“O gitu. Ajak aja nanti om Mario ke poliklinik, Rud. Biar cepet dapet obat,” kata sipir itu lagi, dan meneruskan tugasnya ke kamar-kamar lain.


Aku yang masih menutupkan mata, mendengar dengan jelas dialog antara sipir dengan Rudy. Namun, aku memilih untuk tetap merebahkan badan. Mengembalikan kondisi badan lebih penting dibandingkan segera bangun tanpa arah kegiatan.


Ketika perut terasa ingin diisi, perlahan aku bangun. Meminta Rudy membuatkan bubur instan yang dikirim istriku beberapa hari lalu. 


Dicampur dengan abon sapi, makanan khas orang sakit itu, terasa begitu nikmat. Hingga berkeringat badanku, setelah menghabiskan satu piring bubur.


Selepas mandi dan duduk santai di taman yang ada di depan kamar, aku melihat banyak tahanan yang mendapat panggilan karena ada besukan dari anggota keluarganya. 


Nampak wajah mereka penuh keceriaan. Berjalan cepat ke arah pos penjagaan untuk melapor. Dan kembali melapor di pos penjagaan luar atau depan, untuk kemudian bertemu keluarganya di ruang besukan yang ada di bagian belakang kantor rutan.


“Emang kalau dapet besukan itu rasanya kayak lebaran ya, Be,” tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.


Spontan aku menoleh. Ternyata pak Edy sudah berdiri di sampingku. Ditangannya terdapat cangkir, berisi kopi. 


Tanpa dipersilahkan, pria berbadan kurus dengan kulit hitam gelap tersebut, langsung duduk di sampingku. Di kursi taman yang dibuat dari bata bertutup semen.


“Sebenernya, kita disinilah yang sering lebaran itu ya, pak Edy. Kalau diluar kan, lebarannya cuma pas idhul fitri sama idhul adha aja. Kalau kita, bisa seminggu dua kali,” kataku, mencandai pak Edy.


Mendengar perkataan candaku, pria yang terlilit kasus mafia tanah itu tertawa. Ngakak. 


“Inilah aku senengnya sama Babe ini. Mikirnya yang enak-enak aja di dalem sini. Nggak mau pusing sama sengsara atau tercerabutnya kebebasan kita,” sahut pak Edy. 


“Kan kata pak Edy, kita harus pandai-pandai nyesuaiin diri sama kondisi dan lingkungan. Dari penyesuaianku, emang kita harus mikirnya positif-positif aja. Angkat baik-baiknya aja. Ngapain nambah nyusah-nyusahin hati dan pikiran, wong emang kita hidup di dalem ini sudah susah-susah bener,” kataku, dan tertawa.


Kembali pak Edy tertawa. Juga ngakak. Hingga beberapa tahanan di kamar 19 yang melihat kami dari balik jeruji besi kamarnya, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Bang Mario, alangkah enak ketawanya sama pak Edy pagi ini. Kayak lagi lebaran aja,” teriak pak Sibli dari kamar 19.


“Kesini, pak. Jangan ngomong dari balik teralis gitu. Kayak tahanan aja,” sahut pak Edy, mencandai pak Sibli. Kami pun kembali tertawa.

 

“Siap perintah. Tapi bukain dulu dong pintu kamar ini. Kalau pintu kegembok, aku bisa keluar, nanti dibilang aku sakti,” kata pak Sibli, masih diiringi tertawa. 


Kami semua kembali tertawa dengan candaan jenaka pak Sibli. Anggota Polri yang terlilit kasus penipuan dan penggelapan tanah, dengan pelapor atasannya langsung. 


Aku pun memanggil tamping kunci. Meminta dibukakan pintu sel 19, agar pak Sibli bisa keluar kamar untuk bergabung dengan aku dan pak Edy. 


Tidak perlu berlama-lama, tamping langsung menjalankan tugasnya dan pak Sibli pun duduk santai bersama kami.


Ketika kami sedang berbincang ringan, aku melihat sipir Almika masuk ke kawasan Blok B. Ditangan sipir muda berbadan tegap dengan wajah simpatik tersebut, terdapat sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkusan.


Meski melihat kami duduk santai di depan taman, Almika terus melangkahkan kakinya dan masuk ke kamar 20. Kamarku. Spontan, aku berdiri dan masuk ke kamar.


“Ini buat sarapan om. Aku bawain sate padang,” kata Almika, begitu aku masuk kamar.


“Alhamdulillah. Terimakasih banyak, Mika. Tapi om sudah sarapan. Buat makan siang aja nanti,” kataku, seraya menerima kantong plastik yang dibawanya.


Almika membuka kancing jaketnya. Ia mengeluarkan dua bungkus rokok. Langsung diberikannya kepadaku. 


“Alhamdulillah. Banyak bener kamu kasih om, Mika,” ucapku, sambil menyalaminya dengan penuh penghargaan.


“Santai aja, om. Itu emang rejeki om. Aku cuma dititipin aja sama Allah. Moga-moga berkah ya om,” ujarnya, seraya tersenyum.


Setelah kami duduk di kursi tamu ruang depan kamarku, baru aku buka kantong plastik yang dibawa Mika. Ternyata isinya bukan hanya sebungkus sate padang saja.


Tapi juga tiga bungkus mie instan rebus, satu bungkus bandeng presto, dan satu kotak minuman energen.


“Masyaallah, banyak bener bawaan kamu ini, Mika. Om nggak tahu gimana ngebales kebaikanmu,” kataku, dengan suara haru.


“Nggak usah dipikirin, om. Yang penting om jangan sampai kurang makan. Biar kondisi badan tetep sehat. Sakit di penjara itu rasanya lima kali lipet dibanding sakit di rumah, om. Mika nggak mau om sakit,” jawabnya, tetap dengan tersenyum.  


“Ngomong-ngomong, kamu ini suka sate ya?” tanyaku, sambil menatap wajahnya. 


“Sebenernya nggak suka-suka banget sih, om. Sengaja aja kalau buat om, aku bawain sate,” ucap Mika. 


“Kenapa gitu, Mika?” tanyaku, sambil mengernyitkan dahi. 


“Untuk ngingetin om aja. Ya buat ngingetin aku juga sih sebenernya. Kalau sifat manusia itu ibarat sate. Ada tukang tusuk, ada tukang bakar, ada tukang kipas, ada tukang makan, dan ada tukang mengamati,” urai Mika. Kali ini ia langsung tertawa. 


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tidak menyangka begitu dalam pesan kehidupan yang Mika titipkan melalui makanan sate yang ia berikan kepadaku. 


Yang hanya bisa dipahami oleh jiwa yang tenang dan pikiran yang lapang. Bukan oleh yang terkungkung dalam keterpenjaraan pada setiap helaan nafasnya. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler