Balada Seorang Narapidana (Bagian 179) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 179)

Selasa, 28 Juni 2022, Selasa, Juni 28, 2022


Oleh, Dalem Tehang


PAK Mario mau memaafkan dan membuat surat tertulis kepada KPR untuk membantu Bima?” tanya dia, beberapa saat kemudian.


Ku anggukkan kepala dengan sungguh-sungguh. Sesaat, tampak ia tersenyum. Sumringah. Dan selanjutnya, kelihatan ia menarik nafas panjang. Ada kelegaan.


“Kapan saya harus siapkan surat tertulisnya, pak?” tanyaku, dengan serius.


“Lebih cepat, lebih baik, pak,” katanya. Pendek dan tegas.


“Siap. Nanti setelah solat Maghrib, saya buat suratnya, pak. Saya antarkan kemana,” ujarku lagi.


“Nanti saya yang ke kamar pak Mario. Sekalian mengajak Bima. Dia masih ada di pos penjagaan luar. Tidak berani bergerak sedikit pun sesuai perintah KPR,” jelas komandan pengamanan rutan.


Suara mengaji dari masjid sudah terdengar, pertanda sebentar lagi waktunya solat Maghrib. Aku berpamitan untuk mandi dan bersiap ke masjid.


Komandan pengamanan rutan dan Ino pun bergerak, meninggalkan tempat kami kongkow sebelumnya. Sang komandan berjalan meninggalkan Blok B menuju pos penjagaan luar, sedangkan Ino masuk ke selnya. Kamar 19.


Begitu solat berjamaah selesai, buru-buru aku kembali ke kamar. Untuk membuat surat pernyataan ditujukan kepada KPR terkait dengan nasib Bima. Sipir muda usia yang sempat berselisih denganku.


Dan benar. Baru saja aku melipat surat pernyataan untuk dimasukkan ke dalam amplop, komandan sipir sahabatku datang. Bersama Bima. Tanpa banyak bicara, aku serahkan surat pernyataan yang telah aku siapkan.


Bima menyalami dan mencium tanganku. Serta menyampaikan permintaan maafnya. Tampak ada penyesalan yang sangat mendalam tergurat di wajahnya yang tampan. Setetes air mata keharuan, sempat aku lihat ada di sudut bola matanya.


Setelah membaca dengan teliti surat pernyataan yang aku tulis, komandan sipir sahabatku dan Bima langsung keluar kamar. 


Dan kemudian, berjalan cepat menuju kantor rutan. Untuk segera menghadap KPR. Sebelum bos besar penanggung jawab keamanan rutan tersebut, menjatuhkan sanksi untuk Bima.


Rudy menemuiku, yang masih duduk santai di lantai atas tempat kasurku. Ia mempertanyakan, mengapa aku membuat surat pernyataan dan memaafkan sipir Bima. 


“Memaafkan itu lebih baik daripada mendendam, Rud. Lagian, kita disini kan mau nyaman juga. Sekecil apapun kita bermasalah dengan orang lain, siapapun mereka, pasti bakal buat hati kita nggak tenang,” kataku, memberi penjelasan.


“Tapi gara-gara kasus semalem, nama om harum di kalangan tahanan. Mereka pada segen dan takut sama om. Rudy jamin, nggak bakal ada yang berani macem-macem sama om sekarang ini. Cuma, kalau mereka denger, akhirnya om maafin sipir itu, bisa aja om dianggep penakut. Cemen atau kaki kuning,” ujar Rudy, memprovokasi.


“Om nggak peduli apapun penilaian orang sekarang ini, Rud. Mau baik atau buruk, nggak om pikirin. Om saat ini lagi ngerasa seneng, karena punya kesempatan bisa bantu orang. Walau orang itu sempet bermasalah sama om, apapun kesalahan orang itu,” kataku lagi.


“Kalau nurut Rudy, mestinya om gantung dulu soal surat pernyataan pemberian maaf buat pak Bima. Biar kendali ada di tangan om. Tinggal om mainin sesuai mau om,” tanggap Rudy.


Aku hanya tersenyum menyahuti apa yang disampaikan Rudy. Aku sudah semakin memahami, betapa kehidupan di penjara, sesungguhnya, lebih banyak friksi dan trik-trik yang bisa membuat kita semakin tersudut karena mengikuti pembicaraan antarsesama. Banyak jebakan dan tipu daya yang dimainkan oleh penghuni rutan. 


Meski, untuk menilai Rudy, aku lebih memilih kata-kata yang pernah dikirimkan seorang sahabat: Memang sulit menjelaskan kepada kelelawar, bahwa matahari pagi lebih menyehatkan daripada angin malam.


Setelah solat Isya dan makan malam, aku merebahkan badan di kasur tebalku. Mencoba melepaskan berbagai lelah dan penatnya pikiran yang mengisi hidupku seharian. Angan pun melayang. Membayangkan istri dan anak-anakku. 


Perlahan, batinku dirayapi angin kesedihan. Bertambah lama, sepoinya menjadi kepiluan. Terus merambat ke sekujur badanku. Menciptakan hawa dingin yang melingkupiku. Trenyuh. Ngenes. 


Hingga terasa hawa dinginnya keluar dari badanku. Berputaran di dalam kamar. Aku tarik selimut. Menutup dari kaki hingga kepala. Namun, tetap saja hawa dingin itu terus bersemayam dan berputaran. Sampai kemudian, aku tidak mampu menahannya. Menggigillah badanku. Hingga bergetaran kasurku. 


Dalam situasi yang sudah tidak terkendali itulah, mulutku baru mengucap istighfar. Dan memohon perlindungan kepada Sang Maha Pelindung. 


Terus aku ucapkan kalimat permohonan ampunan. Tanpa hitungan. Hingga aku lelah dalam pengucapannya, dan tertidur tanpa perniatan.


“Om, bangun. Kenapa ngigau-ngigau gitu. Oh, badan om kok dingin bener gini ya? Demam ini, om,” tiba-tiba Rudy membangunkanku dengan menepuk pelan telapak kakiku.


“Astaghfirullah. Tolong ambilin tolak angin, Rud. Juga air panas setengah gelas,” kataku, begitu bangun dan duduk di atas kasurku.          


Minyak kayu putih yang selalu ada di rak atas tempat tidurku, langsung aku buka dan usapkan ke badanku. Ada hawa hangat menyerap. 


Dan kondisi badanku perlahan kembali normal setelah aku minum tolak angin yang telah menyatu dengan air hangat di dalam gelas yang disiapkan Rudy.


“Om ada apa? Kok ngigaunya kenceng bener. Sampai Rudy kebangun,” kata Rudy, sambil duduk di tepian kasurku.


“Memangnya om ngigau apa ya, Rud?” tanyaku.


“Nggak jelas, om ngomong apa. Tapi teriak kenceng gitu. Kali kasus sama pak Bima sampai kebawa dalam tidur ya, om,” lanjut Rudy. 


Aku tak menjawab. Karena tidak semua pertanyaan mesti berjawab. Dan tidak semua pertanyaan yang jauh dari yang kita alami, harus membuat kita mengurai hal ihwalnya.


Perlahan, kondisi badanku membaik. Batinku terus menyenandungkan istighfar. Bagiku, pernyataan permohonan ampunan itu lebih sakti dibanding kalimat-kalimat lain. 


Tanpa pernah aku mencoba untuk ingin tahu, apakah permohonan tersebut dikabulkan ataukah tidak, oleh Dzat Yang Maha Pengampun.


Sambil terus mencoba mengembalikan ketenangan di dalam pikiran dan perasaan, tiba-tiba aku teringat perkataan seorang ulama: jika telah menumpuk dosa seorang hamba, namun dia tidak memiliki amal kebaikan untuk menghapusnya, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya dengan kesedihan, untuk menghapuskan dosanya. 


Tanpa terasa, air mata berguliran di pipiku. Ku tundukkan wajahku. Menatap lekat-lekat ke kasur. Sambil terus mengucap istighfar. Hingga badanku kembali bergetaran. Perlahan, seakan ruhku keluar dari badan. Melayang di angkasa. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler