Balada Seorang Narapidana (Bagian 178) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 178)

Senin, 27 Juni 2022, Senin, Juni 27, 2022


Oleh, Dalem Tehang    

   

TERNYATA, aku kembali tidur. Sampai dibangunkan oleh Rudy ketika adzan Dhuhur menggema. Dengan setengah berlari, aku menuju ke masjid. Rasanya sangat merugi bila sampai tidak mengikuti jamaahan.


Di masjid, aku bertemu pak Anas dan pak Waras. Selepas solat berjamaah, keduanya menanyakan masalah yang sempat aku alami. Dengan singkat, aku sampaikan semuanya. Termasuk happy ending-nya.


“Alhamdulillah semuanya sudah selesai ya, be. Ikuti saja alur kehidupan ini, nikmati prosesnya. Karena Tuhan tahu kapan kita diberi-Nya keberkahan,” ucap pak Anas, setelah mendengar ceritaku. 


“Babe nggak perlu risau. Kata guru saya dulu, jika kita tidak bisa sekuat hujan yang menyatukan langit dan bumi, maka jadilah selembut doa yang menyatukan harapan dan takdir,” pak Waras menimpali.


“Babe tetep tenang ya. Kesulitan itu seperti air yang keruh. Jangan mengaduknya. Sabar aja, biarkan dia tenang. Nanti juga akan kembali jernih,” sambung pak Waras. 


Sesaat kemudian, pak Waras menepuk-nepuk bahuku. Menenangkan dan menunjukkan keberpihakannya.


Pak Anas menambahkan, hati yang bersih tidak membutuhkan penghargaan, juga penghormatan pun pengakuan. Justru dengan hati yang bersih itulah, akan tumbuh keikhlasan dan keistiqomahan.


Sambil berjalan menuju kamar tahanan, Pak Waras bercerita mengenai perilaku Abu Darda, seorang hakim di zaman Khalifah Utsman bin Affan. 


“Abu Darda sebagai hakim punya sikap yang sangat bijaksana ketika akan memutuskan sebuah perkara. Yaitu, janganlah membebankan kepada manusia yang sebenarnya tidak dibebankan kepada mereka, dan jangan menghisab manusia mendahului Tuhan mereka,” tutur pak Waras, dengan wajah serius.


Pria paruh baya ini menambahkan, ketika semua orang mencela seorang pendosa, Abu Darda justru membelanya. 


“Mengapa begitu? Abu Darda menyampakan: aku hanya benci perbuatannya. Jika dia meninggalkan perbuatan itu, dia adalah saudaraku,” lanjut pak Waras.


“Bukan dulu, pak. Kenapa jadi pembicaraan ini jauh kemana-mana. Maksudnya apa?” tanyaku kepada pak Waras.


“Nanti, Babe pasti akan dimintai pendapat mengenai sanksi yang tepat untuk sipir yang bermasalah itu. Inget ya, yang kita benci adalah perbuatannya, bukan orangnya. Dan kita jangan sekali-kali menghisab orang lain dengan mendahului kehendak Tuhannya. Memaafkan lebih baik dan tercatat jadi pahala,” jelas pak Waras, seraya melepaskan senyuman.


Barulah aku memahami, mengapa pak Waras menyampaikan kisah mengenai hakim Abu Darda yang bijak bestari. 


“Inshaallah, aku nggak bakal nambah-nambah beban buat sipir itu, pak. Buatku, dengan dia mengakui apa yang dilakukannya sebagai perbuatan tidak benar saja, sudah membuatku melupakan yang terjadi,” kataku dengan serius. 


“Alhamdulillah kalau Babe bisa legowo. Sebab, kalau hidup ini diatur oleh nafsu dan ego, kita nggak akan pernah tenang. Batin kita akan sangat mudah dirasuki kebencian, dan itulah yang memicu penyakit fisik, seperti mudah emosi, darah tinggi dan sebagainya,” pak Anas menambahkan.


Setelah memasuki pintu Blok B, kami pun berpisah. Menuju kamar masing-masing. Aku langsung meminta Rudy menyiapkan makan siang dengan lauk buatan istriku. Ikan asin sambel goreng. Dilengkapi kerupuk.  


Kantuk kembali menyerang, setelah perut kenyang. Aku tidak mencoba melawan. Namun memilih mengikuti keinginan untuk mengistirahatkan badan. Hingga suara adzan Ashar terdengar dengan kencangnya, baru aku membuka mata.


Setelah jamaahan dan menaruhkan kain sarung serta kupluk di kamar, aku keluar kamar. Bermain tenis meja di depan kamar 25. Mencari pelampiasan untuk terus menjaga kebugaran. 


Puas bermain hingga bermandikan keringat, aku kembali menuju kamar. Saat itu aku bertemu Ijal. Pria muda yang dulu pernah menjadi OD di kamar 10 saat aku menjalani penahanan di polres.


Anak muda berstatus mahasiswa yang tersangkut kasus penganiayaan itu, ternyata telah menjadi tamping dapur. Ku panggil Ino. Kami bertiga duduk di kursi taman depan kamarku. Dan terjadilah kesepakatan, mulai besok hari, kami pesan makanan dapur alias catering.


“Nanti uang bayarannya Ijal minta ke Babe apa om Ino?” tanya Ijal.


“Ke aku aja, Jal. Kan seminggu sekali bayarnya ya,” ucapku.


“Iya, be. Seminggunya Rp 75.000. Dua kali sehari Ijal anter cateringnya ke kamar Babe,” jelas Ijal. 


Dan sesaat kemudian, Ijal berpamitan. Karena ia harus mengumpulkan kembali tempat makan pemesan catering dapur yang ada di Blok B. Yang jumlahnya mencapai puluhan. Untuk dibawa ke dapur rutan dan dicuci bersih, dan akan digunakan untuk keesokan harinya.


“Terimakasih ya, om. Kalau sudah begini, kan aku bisa kejamin makannya,” kata Ino, seraya tersenyum.


“Alhamdulillah ya, Ino. Kita terus bersyukur aja. Inshaallah tetep ada kemudahan dibalik semua ini,” sahutku, juga sambil tersenyum.


Ditengah kami masih berbincang ringan, komandan pengamanan rutan yang sejak awal membantuku, datang. Langsung duduk bersama kami. Setelah bertanya mengenai kabar masing-masing, ia pun menanyakan tentang persoalan yang sempat aku alami.


Dengan ringkas, aku ceritakan semuanya. Sejak awal hingga keputusan KPR dalam pertemuan di ruangannya, beberapa jam yang lalu. Beberapa kali komandan sipir sahabatku itu, mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Sebenernya, beberapa menit setelah peristiwa itu, saya sudah dapat kabar. Dan saya yakin, kalau Bima yang mencari masalah. Tapi namanya di rutan, kan nggak bisa juga sertamerta saya turun tangan. Biar saja berproses sesuai aturan,” kata dia.


“Alhamdulillah, sejak awal banyak kawan sipir yang mensupport juga, pak,” ujarku.


“Karena kawan-kawan sipir tahu, nggak mungkin pak Mario berbuat seperti yang dilaporkan Bima. Kami ini kan dibekali ilmu psikologi dan berbagai pengetahuan lainnya. Tentu saja dimatangkan dengan pengalaman. Dalam dua kali obrolan serta melihat gaya atau gestur secara sekilas saja, kami paham bagaimana karakter seseorang. Jadi, kami nggak mudah untuk mengambil tindakan atau kesimpulan,” kata komandan pengamanan rutan, dengan panjang lebar.


“Sipir Bima bakal disanksi berat ya, Dan,” kata Ino, menyela.


“Aturannya sudah baku, bagi sipir yang melakukan pelanggaran. Nggak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, ya pasti ada sanksi. Terkecuali, pak Mario memaafkan dan membuat pernyataan tertulis, meminta kepada KPR untuk memberi kesempatan bagi Bima memperbaiki perilakunya,” sahut komandan pengamanan rutan.


Dengan perkataan tersebut, aku memahami bila sesungguhnya sebagai salah satu komandan pengamanan di rutan, bos sipir sahabatku ini berharap adanya kesediaanku untuk memaafkan Bima. Sehingga sipir muda usia tersebut tidak harus mendapatkan sanksi yang berat.


“Kalau memang ada jalannya agar Bima tidak perlu mendapatkan sanksi, saya siap membantunya, pak,” kataku, sambil menatap wajahnya.


Komandan pengamanan rutan itu menatapku dengan serius. Tampak ia tengah menjajaki kesungguhan hatiku atas perkataan sebelumnya.


Saat itu, hatiku telah mantap untuk membantu sipir Bima. Karena aku menyadari, bila sikap egois dibalas dengan egois, maka pemenangnya adalah kehancuran bersama tangis. Dan aku tidak ingin hal tersebut terjadi. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler