Balada Seorang Narapidana (Bagian 174) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 174)

Kamis, 23 Juni 2022, Kamis, Juni 23, 2022


Oleh, Dalem Tehang


TIBA-tiba, seorang sipir masuk ke dalam kamar. Dan langsung berdiri di dekat kami makan. 


“Wah, enak bener ini makannya. Boleh juga kalau dibuatin mie rebus. Hujan gini pas itu,” ujar sipir tersebut, terus terang.


Aku memberi isyarat kepada Rudy untuk membuatkan mie rebus sesuai yang diinginkan sipir berusia 27 tahunan itu. Sambil menunggu Rudy menyiapkan makanan, ia duduk di lantai tepat di samping kasurku. 


Tanpa meminta izin, ia mengambil sepotong roti yang ada di rak tempatku. Dan langsung mengunyahnya. Juga mengambil sebatang rokokku. Ia masukkan rokok itu ke dalam kantong baju dinasnya. 


Aku hanya terdiam. Tidak suka dengan perilakunya, namun menahan diri. Tidak mau langsung menegurnya.


Ketika Rudy menaruhkan sepiring mie rebus di depannya, sipir muda usia tersebut, meminta disediakan nasi.


“Nggak ada nasi disini, pak,” kata Rudy. Polos.


“Ya cari sana. Nggak klop kalau nggak sama nasi makan mie ini,” ujar sipir itu, dengan nada tinggi.


“Mau cari dimana, pak?” kata Rudy lagi.


“Ya, cari aja kemana kek,” lanjut sipir itu. Dengan nada cueknya.


Akhirnya, aku tidak tahan. Mie rebus di dalam piring yang ada di depan sipir, ku ambil. Dan tanpa banyak bicara, aku memakannya. Sipir itu terbelalak. Tampak mata dan wajahnya memerah. Menahan amarah.


“Kenapa? Mau marah? Mau ngegebuk?” kataku setengah bertanya, sambil ku tatap matanya dengan amarah juga.


“Yah, ini kok dimakan? Kan itu punyaku,” sergahnya, sambil berdiri. Bertolak pinggang.


“Siapa bilang mie ini punya kamu? Mie ini punyaku. Kamu minta, aku kasih. Sudah begitu, kamu minta disediain nasi. Maksa pula suruh cari. Emangnya kamu siapa merintah seenaknya,” kataku, dan bangun dari tempat duduk.


Tampak sipir itu tergagap dengan perlawananku yang sama sekali tidak diduganya. Aku beri isyarat untuk dia keluar kamar.


“Ayo kita kelahi di depan aja. Aku nggak takut kena bagal atau masuk strafsel,” ujarku, dengan nada tinggi.


Sipir itu bergerak cepat. Keluar kamar. Namun tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menjauh, akhirnya keluar pintu masuk blok. Aku yang sudah terlanjur naik darah, mengikutinya.


Tepat di depan pintu blok, ku panggil dia. Tapi ia terus berjalan. Menuju pos dalam. Aku pun mengikutinya dan masuk ke pos dalam.


“Kenapa, om?” tanya seorang sipir yang ada di dalam pos saat melihat aku masuk dan memandang penuh amarah kepada sipir yang baru juga masuk ke dalam pos.


Dengan penuh emosi, aku ceritakan apa yang terjadi. Bagaimana perilaku arogan sipir muda usia tersebut. Seorang sipir yang menjadi penanggung jawab pos dalam malam itu, memerintahkan sipir tersebut ke ruang sipir di pos depan. 


“Kamu ke pos depan. Tunggu saya disana. Jangan kemana-mana,” ujar penanggung jawab pos dalam, dengan wajah serius.


Begitu sipir yang bermasalah denganku meninggalkan pos penjagaan dalam, penanggung jawab pos menyampaikan permohonan maafnya.


“Sama-sama, Dan. Saya juga mohon maaf kalau frontal seperti ini. Tapi saya rasa, kami sudah memenuhi apa yang dia inginkan sesuai kemampuan kami. Kalau diminta yang kami nggak ada, ya nggak bisa juga. Apalagi caranya itu yang nggak pas buat saya,” kataku kemudian.   


Penanggung jawab pos penjagaan dalam memahami mengapa sampai aku demikian frontal. Ia mengaku akan membuat laporan tertulis untuk disampaikan kepada Kepala Pengamanan Rutan alias KPR. 


Setelah berbincang beberapa saat, aku pamit. Kembali ke kamar. Saat memasuki pintu masuk Blok B, ku lihat Rudy sedang berbicara dengan Basri dan Dino. Tanpa menyapa mereka, aku meneruskan langkah, langsung masuk ke kamar.


Mie rebus yang masih tersisa di piring, segera aku habiskan. Bersamaan dengan Rudy masuk kamar. Aku minta OD kamar tersebut untuk segera membersihkan bekas kami makan.


Saat Rudy masih berbenah, aku mengambil wudhu dan solat Isya di atas kasurku. Meski hati dan pikiran masih diliputi suasana tidak nyaman, tetap aku paksakan untuk berkonsentrasi menjalankan kewajiban seorang hamba kepada Khaliqnya. 


Ketika aku masih berdzikir, terdengar suara Fani. Ia menanyakan persoalan yang beberapa waktu lalu terjadi. Lamat-lamat, aku dengar Rudy memberi penjelasan. Tidak lama kemudian, suasana kembali hening. Sesekali terdengar suara Rudy bersenandung pelan. Pertanda ia akan memulai tidurnya. Menaruhkan badan di atas kasur tipisnya di bagian depan sel 20.


Merasa cukup dengan dzikir malam ini, aku pun merebahkan badan dan menikmati tidur memasuki dinihari tersebut. Sampai kemudian, aku terbangun saat suara adzan Subuh menggema. Membelah keheningan malam di dalam rutan.   


Selepas melaksanakan subuhan, aku kembali tidur. Basri dan Dino tampak masih begitu nyenyak terbuai mimpi. Di kanan kiri tempatku. 


Sempat ku pandangi wajah kedua napi tersebut. Sebenarnya, ada ketidakpuasan dengan perilaku mereka selama ini. Yang mendiamkanku. Bahkan, sama sekali tidak menganggap keberadaanku. 


Namun, suara hatiku yang terdalam mengingatkan untuk tetap perlunya aku mensyukuri situasi ini. Karena betapapun juga, saat aku tidur, tetap ada yang menjagaku. Basri di sebelah kananku dan Dino di sebelah kiriku. 


Dan ada kesadaran, sesungguhnya hidup itu bukan untuk saling menuntut menjadi sempurna, melainkan untuk saling menutupi kekurangan yang ada. 


Ketika aku masih leyeh-leyeh di atas kasur, terdengar suara sepatu berlaras masuk kamar. Aku paham, itu suara sepatu sipir. Ternyata benar. Fani yang datang. Sipir yang teman satu fakultas denganku, saat kami kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, beberapa tahun silam.


Buru-buru aku bangun dari kasurku, dan mengajaknya berbincang di depan kamar. Duduk di kursi dari semen yang ada di tengah taman. Wajah Fani tampak tegang. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler