Balada Seorang Narapidana (Bagian 171) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 171)

Senin, 20 Juni 2022, Senin, Juni 20, 2022


Oleh, Dalem Tehang


PAK Edy mengajakku ke pos penjagaan dalam. Ia ingin berbincang dengan para sipir. Karena sejak beberapa hari belakangan badannya kurang sehat, ia tidak pernah keluar dari blok.


Tiga orang sipir yang ada di dalam pos, menyambut kedatangan kami dengan baik. Ramah dan penuh persahabatan. Bahkan, salah satunya langsung memerintahkan tamping untuk membuatkan kami minuman kopi hangat.


Tanpa ada pembatas, kami terlibat dalam berbagai obrolan. Uniknya, sama sekali para sipir tersebut tidak pernah menanyakan kasus yang melilit kami. Justru banyak mengulas bagaimana langkah ke depan bila telah menyelesaikan hukuman.


“Kami berdua ini sidang aja belum, Dan. Belum kepikirlah kayak mana ke depan nanti,” ucap pak Edy sambil tersenyum.


“Soal kapan sidang, gimana vonisnya, sampai berapa lama disini, nggak usah dipikirin, pak Edy. Dijalani dengan santai aja. Yang harus dipikirin, nanti setelah dari sini. Dengan pola itu, kehidupan disini tetap enjoy,” kata seorang sipir berusia 50 tahunan.


“Jujur, belum sampai otakku buat mikir sejauh itu, Dan,” aku pak Edy, terus terang.


“Ya sudah, kalau belum sampai kesana pikirannya, jangan dipaksain, pak Edy. Tapi saran ini, harus dimulai mikirnya kesana. Ke hari depan,” lanjut sipir itu.


“Ya emang bagus sih sarannya, Dan. Tapi jujur, mikirin hidup disini aja nggak karuan rasanya pikiran sama hati,” pak Edy menambahkan.


“Saran aja ini, pak Edy. Jangan banyak mengeluh. Karena mengeluh itu tanda lemahnya iman atas takdir. Jadilah hamba yang ridho pada setiap ketentuan-Nya,” sipir itu berkata lagi, dengan nada suara penekanan.


“Terimakasih sarannya, Dan. Moga-moga pikiranku bisa segera terkendali lagi,” ujar pak Edy, seraya menyeruput kopi yang ada di depannya.


Tiba-tiba datang seorang sipir didampingi tamping, dengan dua orang tahanan baru, masuk ke pos penjagaan. Wajah kedua tahanan itu tampak begitu tegang.


Bahkan saking tegangnya, salah satu di antara tahanan baru tersebut, tangannya terus bergetaran. Yang tampak dari kantong plastik berisi pakaian yang dipegangnya. Terus bergoyang, meski perlahan.


Salah seorang tahanan baru dengan tubuh tinggi besar berkulit kuning bersih, memandangiku yang masih duduk santai di dalam pos penjagaan. Mengikuti proses penyerahan tahanan baru dari sipir pos depan kepada sipir pos dalam.


Saat aku menatapnya, ia menganggukkan kepalanya. Spontan, aku pun menganggukkan kepala dan tersenyum.


“Saya Yan Wijaya, bang. Saya tahu dengan abang,” kata tahanan baru itu, memperkenalkan dirinya. 


Setelahnya, ia bergerak mendekat dan berusaha menyalamiku. Aku pun berdiri. Menyalaminya. Tampak matanya berkaca-kaca. Diliputi keharuan. Aku tepuk-tepuk pundaknya. Menenangkan. Tanpa suara.


“Om Mario kenal?” mendadak seorang sipir bertanya kepadaku. Aku hanya menganggukkan kepala.


“Kalau begitu, nanti om Mario ikut aja nganter mereka ke AO. Yang tugas jaga disana si Ary. Kan sudah kenal. Bilang aja sama dia, kalau ini kawan om,” ujar sipir itu, memberi jalan.


“Siap. Terimakasih, Dan,” sahutku. Dan ku tatap mata Yan Wijaya sambil tersenyum. Ia juga tersenyum. Tampak ada kelegaan dari wajah pria berusia 45 tahunan tersebut.


Sekitar 20 menit kemudian, kedua tahanan baru itu diantarkan seorang sipir didampingi tamping, berjalan untuk menuju sel khusus, yang disebut AO. Sel wajib bagi tahanan pada babak awal penahanannya di rutan.


“Kamu sebelumnya ditahan dimana, Yan?” tanyaku, saat kami berjalan di selasar.


“Saya ditahan di polda, bang. Kena kasus penyuapan,” kata Yan dengan suara bergetar.


“Ya sudah. Kamu yang tenang ya. Nggak usah banyak pikiran. Jalani aja dengan sabar dan ikhlas. Cuma itu, nggak ada pilihan disini,” sahutku.


Sesampai di pos penjagaan sel AO, sipir Ary melakukan pemeriksaan. Saat itu, aku sampaikan bila Yan adalah kawanku.


“Oh, kawan om Mario. Oke, nanti aku masukkan ke sel 1. Isinya cuma 20 orang. Kalau di sel 2 ada 28 orang,” kata sipir Ary.


“Tolong masukkan mereka berdua ke sel 1 aja, Dan. Biar nggak umpel-umpelan,” kataku dengan menundukkan wajah. Mengajukan permohonan. 


Sipir Ary menatapku dengan tajam. Aku paham makna pandangannya. Spontan aku kembali menganggukkan wajah dan tersenyum.


Tidak lama kemudian, Yan dan seorang temannya dibawa masuk ke sel 1 AO. Sebelum melangkah masuk ke pintu gerbang pemisah blok AO, ku keluarkan rokok yang ada di kantong celana, dan memberikannya kepada Yan. Meski tidak utuh lagi, namun masih cukup banyak isinya di dalam bungkus rokok tersebut.


“Terimakasih, bang. Tolong jagain saya ya, bang,” kata Yan sambil memelukku, dengan suara pelan.


Ku anggukkan kepala sambil melepas senyum. Aku tahu persis, bagaimana rasanya begitu menginjakkan kaki memasuki kawasan rutan dan harus menjalani penahanan dengan tinggal di sel khusus AO. Karena itu, aku berusaha maksimal untuk meringankan beban batin dan pikiran Yan.


Selepas Yan dan temannya dimasukkan ke dalam sel AO, sipir Ary kembali ke posnya. Aku yang menunggu di pos, langsung meng-kimel-kan selembar uang ke tangannya. Kesepahaman itu indah. Pola kehidupan kebersamaan yang terbangun di dalam rutan.


Setelah berbincang beberapa saat dengan sipir Ary, aku keluar pos dan berjalan menuju Blok B. Blok tempat penahananku.


Ketika melewati samping kantin, terdengar ada yang memanggilku. Ku tengokkan wajah. Ternyata Gerry yang memanggilku. Aku pun masuk ke kantin. Dan duduk di samping Gerry yang sedang menikmati makanan ringan, siomay. Tanpa meminta persetujuanku, Gerry langsung memesankan aku siomay dan satu botol air mineral. 


“O iya, kenalin, bang. Ini Heru. Di Blok B juga. Di kamar 18. Dia ini pakar IT. Gara-gara ngaku sebagai pejabat tinggi lewat akunnya, masuk sini akhirnya,” kata Gerry, memperkenalkan seorang pria berusia 40 tahunan yang duduk di depannya. Juga sedang memakan siomay. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler