Balada Seorang Narapidana (Bagian 170) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 170)

Minggu, 19 Juni 2022, Minggu, Juni 19, 2022


Oleh, Dalem Tehang

   

SEKEMBALI ke kamar, aku minta Rudy mengeluarkan masakan istriku, yang sudah disusun rapih di lemari makan.


Beragam lauk rupanya yang dibuat istriku. Mulai dari rendang, sayur asem ceker ayam, gurame bakar, tahu dan tempe goreng, dan tentu saja makanan favoritku: ikan asin sambel goreng. Juga lima bungkus nasi, serta dua bungkus kerupuk.


“Kita makan siang pakai gurame bakar sama tahu tempe dan kerupuk aja, Rud. Nanti malem sayur asem ceker ayam sama ikan asin sambel goreng. Tapi, kuah sayurnya kamu panasin dulu. Jadi lebih nikmat,” kataku kepada Rudy yang sedang mengatur menu makan.


“Siap, om. Emang kalau panasin sayur, cuma kuahnya aja ya, om. Isinya nggak dipanasin juga,” sahut Rudy. 


“Cukup kuahnya aja, Rud. Isi sayurnya nggak perlu. Kalau semua kamu panasin, nanti isinya malah gosong atau jadi hilang kesegarannya,” kataku berbagi pengetahuan. 


Di saat kami sedang menikmati makan siang dengan nasi dan lauk langsung dari rumah, terdengar suara Ino dari kamar 19 memanggil Rudy.


“Iya, kenapa om Ino?” kata Rudy sambil bergerak keluar kamar.


“Om Mario tidur ya?” terdengar suara Ino menanyakanku.


“Nggak. Kami lagi makan. Kenapa om,” lanjut Rudy.


“Kalau bisa, kasih tahu om Mario dong, aku pengen ngobrol,” kata Ino lagi.


Rudy berbalik memandangku yang sedang makan di ruang depan. Ku anggukkan kepala. Rudy langsung berteriak, memanggil tamping kunci Blok B.


Tidak perlu berlama-lama, pintu kamar 19 tempat Ino dibuka. Dan pria bertubuh tambun itu pun langsung masuk ke kamarku.


“Kamu belum makan siang kan? Rudy, tolong siapin piring buat om Ino,” ucapku, begitu Ino berdiri di depan pintu.


Akhirnya, kami makan bertiga. Menghabiskan ikan gurame bakar buatan istriku. Yang ia ambil dari kolam kecil di rumah kami. Makan siang kali ini benar-benar nikmat. Betapapun, makanan yang langsung dibawa dari rumah, apalagi dimasak oleh istri, tidak ada dua rasanya. Benar-benar nikmat luar biasa.


“Alhamdulillah. Enak bener ikan guramenya, om. Nasinya juga pulen. Sudah lama aku nggak rasain makan senikmat ini. Terimakasih banyak, om. Sudah ngajak aku ikut makan,” kata Ino, setelah kami selesai makan siang.


“Namanya masakan dari rumah, apalagi langsung diracik sama istri, memang beda bener rasanya, Ino. Alhamdulillah kita masih bisa merasakan nikmatnya rejeki Allah berupa makan siang ini,” sahutku sambil tersenyum.


Rudy membuatkan aku kopi pahit, sementara Ino dibuatkan teh manis. Aku dan Ino keluar kamar. Duduk di depan taman sambil menikmati minuman hangat dan rokok.


“Tadi kayaknya kamu ada perlu sama aku ya, Ino,” kataku, memecah keheningan.


“Pengen ngajak om diskusi aja sih,” jawabnya.


“Oke, apa yang mau kita diskusiin,” tanggapku.


“Jadi gini, om. Maaf kalau aku bicara terus terang ya sama om. Karena aku ngerasa sehati aja,” ucap Ino dengan memandang wajahku.


“Oke, nyantai aja, Ino,” kataku, pendek.


“Terus terang, kondisi ekonomi keluargaku sekarang ini bener-bener sudah tengkurap. Sekarang-sekarang ini, aku hanya dikirim Rp 600.000 perbulan. Untuk bayar uang kamar aja nggak cukup, apalagi buat makan, rokok, peralatan mandi dan kebutuhan lain-lainnya, om,” Ino memulai cerita.


“Emang berapa buat uang kamar perminggunya?” tanyaku.


“Seharusnya Rp 250.000 perminggu, om. Itu sama makan dua kali sehari. Di kamar kami, pesen catering dapur untuk makannya. Tapi kalau nggak ikut makan, cukup bayar Rp 100.000,” jawab Ino.


“Oke, terus yang ada di kepalamu kayak mana?” tanyaku lagi.


“Aku lihat, om kan nggak makan bareng di kamar 20 ini. Urusan makan, masing-masing aja. Gimana kalau kita pesen catering dari dapur aja. Kan satu paketnya Rp 75.000 perminggu. Berarti Rp 300.000 perbulannya,” Ino mengurai.


“Iya, terus mau kamu kayak mana?” kataku, menyela.


“Kalau om setuju, satu paket nasi catering dari dapur, kita bagi dua. Kan lumayan banyak itu isinya. Bisa buat kenyanglah pokoknya. Tapi, dari Rp 300.000 perbulan, aku bisanya cuma Rp 100.000. Jadi om yang Rp 200.000-nya,” lanjut Ino.


“Kenapa begitu?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


“Ya maaf ini, om. Aku kan dikirim Rp 600.000 aja sebulannya. Buat uang kamar tanpa makan Rp 100.000 perminggu, berarti Rp 400.000 sebulan. Sisanya Rp 200.000. Maksudku, kalau om setuju, yang Rp 100.000 untuk kita paroan pesen makan catering dapur, yang Rp 100.000 sisanya buatku beli sabun, sampo dan pastinya rokok. Ya, biar tetep ada pegangan aja, om,” tutur Ino, mengurai dengan detail.  


“Oke, nanti aku pertimbangin ya, Ino. Inshaallah ada jalan keluarnya,” sahutku dan menepuk pundaknya. Menenangkan pengusaha pasir tersebut.


Tiba-tiba, pak Edy datang. Dan langsung duduk di depan kami. Wajahnya masih terlihat agak pucat. Matanya juga memerah.


“Masih belum fit bener kayaknya, pak Edy?” tanyaku, menyapa pria setengah baya yang terlibat kasus mafia tanah itu.


“Iya, nggak tahu ini, Be. Kenapa badan jadi manja bener gini. Padahal, berobat sudah nggak kurang-kurang. Sampai capek petugas poliklinik meriksanya,” sahut mantan kap kamarku saat kami menjalani penahanan di polres.


“Kali beban pikiran yang jadi penyebabnya, om,” Ino menyela. 


“Pastinya ya itu. Beban pikiran emang. Ya gimana juga, perasaan emang bener-bener lagi nggak nyaman,” ujar pak Edy, polos.


“Masih berkutat di persoalan yang kemarin itulah ya, pak Edy,” kataku, sambil menatapnya.


“Iya itulah masalahnya, Be. Sudah hidup dalam kurungan, ditinggal istri pula. Sedih dan sakitnya itu luar biasa,” aku pak Edy.


Ino menatapku. Ia kelihatan heran dan bingung, melihat aku memahami tentang persoalan yang sedang dihadapi pak Edy.


“Kamu nggak usah heran, Ino. Pak Edy ini bos aku sejak di polres dulu. Nggak ada rahasia diantara kami. Tapi nggak akan dibuka kepada orang lain,” ujarku, menjawab keheranannya.


Ino memahami maksud perkataanku. Dengan sopan, ia berpamitan. Beralasan membeli rokok di kantin, ia meningalkan kami berdua untuk melanjutkan perbincangan. 


“Bantu aku dulu, Be. Gimana caranya perasaan ini bisa tenang. Biar aku bisa mikir dengan baik. Jujur, selama beberapa hari ini, aku ngerasa nggak karu-karuan. Sampai-sampai sakit nggak jelas. Babe kan lihat sendiri gimana kondisiku,” kata pak Edy, setelah Ino beranjak dari tempat kami duduk.


“Gimana ya caranya? Yang aku tahu, kalau lagi gundah nggak karuan, aku wudhu dan solat sunah dua rokaat. Terus baca istighfar. Nggak pernah aku hitung-hitung, sampai ngerasa capek. Terus tidur. Bangun-bangun, sudah enakan perasaanku. Itu pengalamanku pribadi, pak Edy. Mungkin bisa dicoba kalau pak Edy mau dan percaya,” jawabku, beberapa saat kemudian.


“Sesederhana itu, Be?” katanya, menyela.


“Iya, kalau yang aku jalani, ya cuma gitu, pak Edy. Dan selama ini, setiap ngadepin masalah yang buat perasaan sampai nggak karuan, itu aja ikhtiarku. Alhamdulillah, aku ngerasa setelahnya ya membaik,” lanjutku dengan mantap.


“Bukannya kita harus baca ayat ini, surat ini atau itu. Solat sunahnya sekian rokaat. Terus doanya banyak gitu, Be?” tanya pak Edy. Ada kernyitan di dahinya.  


“Aku nggak paham kalau soal itu, pak Edy. Yang aku sampein, yang aku ngerti dan jalani selama ini. Lagian, Tuhan kan maha mendengar, maha mengetahui. Yang nggak kita omongin aja, Dia tahu dan denger kok. Jadi, kalau nurut aku, nggak perlu repot-repot dialog atau ngadu sama Tuhan itu, pak Edy. Yang penting ikhlas dan pasrah,” tuturku mengurai panjang lebar.


Pak Edy terdiam. Wajahnya menunduk. Matanya menatap tanah. Tangannya yang memegang sebatang rokok bergerak ke mulutnya. Dihisapnya rokok itu. Dan perlahan, ia hembuskan asapnya. Menuju ke tanah yang ia tatap. Entah apa yang tengah berada di dalam pikirannya. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler