Balada Seorang Narapidana (Bagian 169) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 169)

Sabtu, 18 Juni 2022, Sabtu, Juni 18, 2022


Oleh, Dalem Tehang 


DI saat kami masih berbincang, seorang tamping regis mendekat. Memberitahu jika istri dan anak-anakku sudah menunggu di kantor rutan. 


Tamping itu juga menyampaikan kepada bos alias sang bupati, bila pengacaranya sudah menunggu di ruang konsultasi hukum yang ada di lantai 2 kantor rutan.


Setelah menaruh cangkir kopi ke dalam kamar dan mengambil kantong plastik berisi pakaian kotor, aku bersama sang bupati didampingi tamping regis berjalan menuju kantor rutan.


Begitu masuk kantor rutan, tamping membawaku ke aula. Meski penuh tanda tanya, namun ku ikuti saja langkahnya. Ternyata, bukan hanya istri dan anak-anakku saja yang saat itu membesukku. Tapi juga dua orang adik kandungku. Pantas saja pertemuan kami dilakukan di aula, karena cukup ramai yang datang.


Lama ku peluk erat istriku, Laksmi. Rasa kangen, sayang, dan haru itu berbaur. Menyatu dalam degub jantung seiring eratnya badan kami berpelukan. 


Ku tatap mata istriku, tetap berbinar. Tetap terpancar optimismenya. Hanya wajahnya, kini lebih tirus. Ada derita batin yang disimpannya dalam-dalam.


“Ayah sayang bunda,” kataku, sambil terus memeluk istriku. Ia kecup pipi dan keningku. Penuh rasa sayang dan kerinduan.


Bulan yang berdiri sejak aku masuk aula, langsung meraup tubuhku begitu pelukanku pada bundanya, merenggang. Ndukku memeluk dengan erat. Seakan ia ingin salurkan hawa kerinduannya yang begitu menggelegak mengisi batinnya selama ini.


“Mbak kangen sama ayah,” ucapnya, pelan.


“Ayah juga selalu kangen sama kamu, nduk. Kangen ayah diungkapin lewat doa yang nggak ada putusnya buatmu,” sahutku, juga dengan pelan.  


Kami terus berpelukan dengan erat. Ia sandarkan kepalanya di dadaku. Seakan ingin mendengar langsung detak jantung kerinduanku kepadanya.


Giliran anak bungsuku, Halilintar, yang mendekapku. Setelah Bulan melepaskan pelukannya.


“Ayah sehat terus ya. Nggak boleh sakit-sakit ya,” kata cah ragilku, sambil menatap mataku dengan tajam. Tatapan anak laki-laki yang tengah membangun ketegaran pada jiwanya.


Dan kemudian, kedua adik kandungku pun memeluk erat badanku. Ada tetesan air mata yang jatuh ke lantai, saat aku memeluk bergiliran kedua adikku. Trenyuh betul yang aku rasakan.


Sambil kami berbincang ringan, istriku membuka nasi bungkus yang dibawanya. Kami memilih duduk di lantai aula kantor rutan yang memang bersih. Untuk bisa makan bersama. Halilintar langsung melahap makanan yang ada di depannya dengan terburu-buru.


“Ngopo to makannya kok buru-buru gitu, le?” tanyaku, melihat cara dia makan.


“Adek ini sudah laper dari tadi, ayah,” sahutnya, sambil terus menyuap mulutnya.


Pertemuan keluarga yang berlangsung hampir tiga jam itu, penuh dengan keceriaan. Berbagai cerita pembawa bahagia, saling susul-menyusul. 


Istriku memang hanya menyampaikan hal-hal yang menyejukkan saja ketika datang membesukku bersama anak-anak. Ia tidak mau, anak-anak ikut merasakan beban persoalan yang melilitku. Masalah-masalah yang penting dan berat, hanya ia sampaikan saat datang sendiri atau bersama Laksa, adiknya.


Bulan dan Halilintar menyampaikan aktivitas sekolah dan kesehariannya. Yang sama sekali tidak terganggu oleh masuknya aku ke penjara. 


Bahkan, hal itu menjadi motivasi keduanya untuk tetap survive. Adik-adik kandungku bercerita mengenai kondisi keluarga besar setelah aku tertimpa masalah.


“Jadi, ayah nggak usah mikirin yang berat-berat ya. Kami semua menerima ujian ini dengan ikhlas. Mantepin aja kedekatan kepada Tuhan. Semua cerita kehidupan ini ada pada kehendak-Nya,” kata istriku, menjelang kami berpisah.


Melihat ketegaran istri dan anak-anakku, juga adik-adik kandungku, semangat pun bangkit lagi. Dan kembali aku teringat apa yang dikatakan Bulan, sesaat sebelum aku masuk ke penjara di polres, beberapa bulan silam. 


Saat itu, ndukku dengan tegasnya menyampaikan: “Masuk bui ini bukan kiamat. Ayah pasti kuat, dan kami semua tetep bangga sama ayah!”


Aku melepas istri, anak-anak, dan adik-adikku keluar rutan hingga pintu gerbang sebelum melewati ruang pemeriksaan khusus yang ada pada bagian depan. 


Pelukan kami dihiasi dengan jiwa yang penuh ketegaran dan kebahagiaan. Hanya Halilintar yang tampak masih merasa berat untuk mengikhlaskan kenyataan ini. 


“Tole sing kuat yo. Ayah disini baik-baik aja kok. Yakin aja, semua ada masanya,” kataku ke telinga Halilintar, saat memeluknya sebelum berpisah.


Cah ragilku hanya tersenyum. Sesaat. Matanya memerah. Menahan keharuan yang menderu kencang pada batinnya terdalam. Ketika bersalaman, aku rasakan telapak tangannya dingin.


Aku memberi isyarat kepada istriku. Dengan cepat, istriku memeluk Halilintar. Dan membawanya berjalan dengan merangkul pundaknya. Memberinya kekuatan. Menyusupkan rasa sayang dan kebanggaan.


Dua kantong plastik berisi makanan yang dibawa istriku, langsung dipegang oleh tamping yang tadi menjemputku. Setelah melalui proses pemeriksaan di pos pengamanan depan dan dalam, sampailah kami di kamarku. Kamar 20.


“Alhamdulillah, nggak ada yang dirazia waktu di pos ya, pakde. Kayaknya, karena isinya makanan buatan dari rumah semua,” ucap tamping regis yang mendampingiku, setelah aku berikan sejumlah uang sebagaimana “kesepahaman” yang berlaku di dalam rutan selama ini.


“Iya, Alhamdulillah. Kalau kirimannya nggak macem-macem, ya nggak bakal kena razia. Itu aja intinya,” sahutku sambil tersenyum.


Baru saja aku akan masukkan berbagai masakan yang dibuat sendiri oleh istriku ke lemari tempat makanan, terdengar suara adzan Dhuhur. Ku panggil Rudy untuk melanjutkan kegiatanku. Dan kemudian, aku menuju masjid. Untuk jamaahan.


Sekeluar dari masjid, aku mendengar namaku dipanggil-panggil. Ternyata Aris. Ia bersama Dika dan Asnawi sedang berada di kantin. Aku pun bergabung. Dan langsung memesan juice alpokat.


“Alhamdulillah, istriku sudah sadar, Be. Tadi adik sama anak-anakku kesini. Tapi, doa kita jangan putus. Perlu waktu cukup lama untuk istriku pulih kembali. Minggu depan, mau operasi tulang iganya yang patah,” kata Aris, begitu aku duduk bersama mereka di bagian ujung kantin.


“Alhamdulillah. Seneng aku dengernya, Ris. Iyalah, kita tetep saling doa. Itulah yang bisa mengubah segalanya,” sahutku dan menepuk bahu Aris. Ekspresi ikut merasakan kebahagiaannya.


“Jadi, sekarang ini Aris sudah ngerasa nyaman. Kita semua ikut seneng,” ujar Asnawi.


“Iya bener, Nawi. Alhamdulillah bener aku. Tapi kan, nggak ada hidup yang seratus persen buat kita bener-bener nyaman. Tetep aja ada sekotak kegelisahan yang tertinggal. Sekotak kosong yang buat kita mimpiin hal-hal yang nggak kita punyai,” sahut Aris. 


“Yang kamu bilang itu nggak salah, Ris. Cuma jangan sampai ngurangi rasa syukurmu. Kalau kata kawanku, jangan buang-buang waktu buat mengejar kupu-kupu, tapi mulailah dengan memperbaiki tamanmu, maka kupu-kupu akan datang dengan sendirinya,” kata Asnawi lagi.


Aku mendengarkan perkataan kedua sahabat itu, sambil tersenyum dalam hati. Perkataan yang sarat dengan makna dalam kemasan ucapan yang tersurat. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler