Balada Seorang Narapidana (Bagian 167) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 167)

Kamis, 16 Juni 2022, Kamis, Juni 16, 2022


Oleh, Dalem Tehang 


DAN sungguh diluar dugaan, apa yang aku saksikan. Dengan kasarnya, petugas sipir yang berada di dalam kamar, begitu enteng menghamburkan semua isi lemari pakaian, hingga berserakan di lantai. Berbagai barang lain yang ada di loker-loker, juga berhamburan.


Setelahnya, baru melakukan pemeriksaan pada lemari, dengan sangat cermat. Juga, memeriksa satu persatu pakaian yang telah berserakan di lantai.


Tidak hanya itu. Semua kasur, bantal, dan guling penghuni kamar juga diperiksa dengan teliti, satu demi satu. Bahkan seprainya pun dilucuti. 


Setiap sudut kasur diperhatikan. Dilihat adakah lubang atau kain yang robek. Bantal dan guling juga dilepas penutupnya. Dilanjutkan dengan pemeriksaan yang cermat. 


Petugas yang melakukan razia tak puas oleh pemeriksaan seperti itu saja. Satu persatu, kasur-kasur yang ada di kamar 18 itu, diinjak dengan memakai sepatu, dari ujung ke ujung. 


Berjalan di atas kasur berkali-kali. Bolak-balik. Hingga bisa dipastikan bila tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan pada kasur tersebut.


Tempat peralatan mandi juga tidak luput dari pemeriksaan. Bahkan bak mandi juga diaduk-aduk menggunakan tongkat yang dibawa petugas. Praktis, semua yang ada di kamar, diperiksa dengan cermat.


Bahkan, kipas angin juga dipelototi. Pakaian yang menggantung pun, diturunkan. Diperiksa hingga ke sudut-sudut jahitannya. Setelah berlangsung sekitar 30 menit, dan tidak menemukan barang yang dicurigai, petugas sipir itu beranjak pergi.


Sebelum penghuni kamar diperbolehkan masuk, petugas yang berada diluar memeriksa badan tahanan satu persatu. Sangat cermat pemeriksaannya. Yang membawa rokok, diperiksa serius bungkusnya. Rokoknya ditaburkan ke lantai.


“Ya sudah, semua masuk lagi. Cepet rapihin barang masing-masing,” kata seorang sipir yang berjaga di luar kamar, dan segera menggembok kembali pintu kamar 18.


Tampak wajah belasan tahanan di kamar 18 yang baru saja dilakukan razia, penuh ketegangan. Tanpa banyak bicara, masing-masing merapihkan kembali pakaian, peralatan pribadi, dan tempat tidurnya. Juga kondisi kamar yang sangat acak-acakan, diatur sesuai kondisi semula.


Setelah di kamar, aku kembali mengeluarkan buku dan menulis catatan harian. Begitu seriusnya aku menulis, sehingga tidak mengetahui bila ada seorang sipir berdiri di dekatku.


“Lagi nulis apa, om?” sapa sipir itu. 


Spontan aku menengok. Sipir berusia 30 tahunan berdiri di dekat tempat tidurku, sambil menebarkan senyumnya. Ia salah satu dari enam sipir yang beberapa saat sebelumnya, melakukan razia di kamar 18.


“Buat catatan harian aja. Yah, ngisi waktu sebelum ngantuk,” kataku sambil duduk, dari sebelumnya menelungkupkan badan di kasur.


“O gitu. Wah, bagus itu, om. Buat catatan apa adanya aja, om. Nanti bisa jadi kenangan terindah,” sahut sipir itu. Kembali ia menebar senyumnya.


“Mau ngopi?” tanyaku. 


Sipir itu menganggukkan kepalanya. Aku minta Rudy membuatkan kopi. Dan sipir itu duduk di sudut kasurku.


“Tadi razia di kamar 18 itu, emang ada info apa?” tanyaku, memancing.


“Biasalah, om. Ada yang nyampein kalau di kamar itu, diem-diem ada yang pegang botol. Kalau hp atau botol itu terdaftar, ya kita sama-sama ngerti ajalah. Tapi, kalau mau semaunya, pasti kami sita. Nggak peduli siapa yang punya,” ujar sipir itu, terus terang.


“Tapi, tadi nggak ditemuin botolnya. Info yang masuk itu salah, atau mereka di kamar 18 yang pinter sembunyiinnya,” kataku lanjut. Penasaran.


“Infonya akuratlah, om. Cuma mungkin, bocor aja rencana kami razia. Kami jalan dari pos depan kesini kan, ada waktu sekitar 10 menitan. Saat itulah, kemungkinan besar sudah ada yang ngamanin barangnya duluan,” urai sipir itu dengan santainya.


“Oh gitu. Jadi, tetep kebaca ya kalau mau ada razia, walau itu dadakan,” lanjutku. Semakin penasaran.


“Kalau yang ngamanin barang itu sesama kami, ya pasti kebacalah, om. Tapi, kalau sesama tahanan yang punya mainan, susah buat ngebaca pergerakan kami. Paling juga, tamping yang punya kesempatan buat ngamaninnya,” tambah sipir muda tersebut, seraya mengirup kopi panas yang dibuatkan Rudy.


“Nah, kalau razia sudah bocor gini, bakal diulang apa nggak?” tanyaku lagi.


“Kami bisa kapan aja lakuin razia, om. Jadi, nggak tergantung waktu tertentu. Begitu kami meyakini ada sesuatu yang tidak benar, kapan aja kami bisa bergerak,” jelas dia.


Ketika kami masih berbincang ringan, tamping yang menjajakan makanan pasdal lewat di depan kamar. Sipir muda tersebut mendadak bangun dari tempat duduknya, dan keluar kamar.


Tidak lama kemudian, ia masuk kembali ke kamarku, dan duduk di tempat semula. Di tepian kasurku. Ditangannya terdapat dua bungkusan.


“Kita makan sate dulu malem ini, om. Sate kambing dengan lontong,” kata dia, seraya menyerahkan satu bungkus kepadaku.


“Oh ya. Kok jadi kamu yang beli. Coba bilang tadi kalau mau beli makanan, kan ada Rudy yang bisa dimintain tolong,” ucapku sambil menerima satu bungkus sate lontong.


“Santai aja sih, om. Ngapain buat repot orang, kalau bisa kita kerjain sendiri,” sahut sipir muda usia itu dengan entengnya.


Rudy membawakan kami dua piring berikut sendok dan garpu. Juga dua gelas air mineral. 


Saat akan memulai membuka bungkus sate lontong di piring yang ada di depannya, sipir itu membuka jaket kulit yang menutupi baju dinasnya. Baru aku melihat namanya. Almika. Nama yang unik. 


“Namamu unik ya. Pasti maknanya dalam sekali,” kataku, sambil menatap sipir berbadan tegap dengan wajah penuh simpatik itu.


Pria gagah itu hanya melepas senyuman, tanpa kata. Dan sesaat kemudian, mengajakku untuk menikmati sate lontong yang ia belikan.


“Terimakasih banyak, Mika. Kita baru ketemu, tapi kamu sudah berbuat begini baik sama om,” ucapku di sela-sela kami makan. 


“Santai ajalah, om. Kita ketemu kayak gini kan bukan kebetulan, tapi memang sudah digariskan. Lagian, urusan makan seperti ini sudah biasa saya lakuin. Semua serba terjadi begitu aja,” tuturnya.


“Maksudnya gimana ya, Mika?” tanyaku, yang tidak paham dengan apa yang disampaikannya.


“Kalau kata guru saya, Abah Anom: Tidak punya sawah asal punya padi, tidak punya padi asal punya beras, tidak punya beras asal makan, tidak makan asal kenyang. Orang yang berdzikir kepada Allah, maka Allah pun akan tanggung jawab sampai ke urusan makannya. Begitu kata beliau, om,” tutur Mika dengan wajah serius.


“Terus maksudnya gimana ya, Mika?” tanyaku, tidak bisa langsung memahami apa yang ia sampaikan. 


“Jadi, kita bisa makan bareng sekarang ini, ya karena dzikir om dan dzikir saya sama-sama diridhoi Allah. Selesai semuanya,” urai Mika masih dengan wajah serius, meski tetap tampak senyum simpatiknya.   


Mendengar perkataan Almika yang apa adanya, spontan aku istighfar di dalam hati. Juga mengucap syukur kepada Robbul Izzati. 


Selalu dipertemukan dengan orang-orang yang menyeretku kepada suasana pendekatan terus-menerus akan kebesaran Yang Maha Kuasa. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler