Balada Seorang Narapidana (Bagian 166) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 166)

Rabu, 15 Juni 2022, Rabu, Juni 15, 2022


Oleh, Dalem Tehang


OM, tadi dicariin waktu apel malem. Om Dino sampai marah, karena om nggak ada di kamar. Dia ditegor sipir,” kata Rudy, begitu aku masuk kamar.


“Lha, kan kamu tahu kalau om lagi di masjid. Kamu bisa bilang ke sipir yang bertugas apel malem. Lagian, kenapa pula Dino marah?” sahutku, mulai menunjukkan sikap.


Rudy hanya diam, dan tampak ia mengangkat bahunya. Melepas persoalan.


“Lain kali, kalau Basri atau Dino cari om pas jam solat, kasih tahu om di masjid ya, Rud. Om juga tahu dan bisa nempatin diri,” kataku kemudian, dengan penekanan.


“Iya, Rudy sih paham. Cuma tadi om Dino kesel gitu sampai marah, karena ditegor sipir,” ujar Rudy.


“Sampein sama dia, kalau mau marah, ngomong langsung sama om. Jangan marah di belakang,” kataku lagi.


Aku merapihkan kasur besarku. Mengencangkan seprai, juga sarung bantal dan gulingnya. Aku taruh selimut di atasnya. Baru ku buat minuman sereal dan menyeduh bubur instan. 


“Kasih tahu Rudy aja kalau om mau buat minum atau makanan. Jangan buat sendiri,” kata Rudy, begitu tahu aku menyiapkan sendiri minuman dan makanan.


“Santai aja, Rud. Kamu memang OD di kamar ini, tapi kalau om lagi pengen buat sendiri, biar aja. Paling gelas atau piringnya, tetep kamu yang nyuci,” sahutku.


“Siap, om. Maaf kalau Rudy kurang pas jadi OD disini,” jawabnya.


Ketika aku sedang menikmati bubur instan sambil duduk di kasur, seorang tamping masuk kamar. Mencariku. Rudy mengantarnya sampai ke tempatku sedang makan.


“Om, ada kiriman dari komandan,” kata tamping itu, sambil menyerahkan piring berisi singkong goreng yang masih tampak asapnya. Kedul-kedul. Baru turun dari penggorengan.


“O iya, terimakasih ya. Salam buat komandan,” kataku, dan menerima kiriman makanan berupa singkong goreng tersebut. 


Segera aku panggil Rudy, setelah tamping yang mengantar makanan singkong goreng, meninggalkan kamar.


“Makan ini, Rud. Ini namanya rejeki yang barokah. Sebelum makan, jangan lupa baca Bismillah,” ujarku, mendekatkan posisi piring ke tempatnya duduk. Di tepian lantai atas, tempatku tidur.


“Terimakasih, om,” sahutnya, dan Rudy pun mengambil singkong goreng serta memakannya dengan lahap.


“Kamu belum makan malem ya?” tanyaku, saat melihat Rudy begitu lahap memakan singkong goreng. OD kamar berusia muda itu, menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah, habisin singkong ini ya. Biar lebih enak, pakai sambel botol makannya. Ditotol-totolin. Ambil di lemari makan sana, kemarin kan om taruh sambel botol sama kecap juga,” kataku lanjut.


Ku ambil satu potong singkong goreng. Betapapun, aku tetap harus menikmati kiriman makanan tersebut, meski hanya sekadar mencicip. Sebuah etika sekaligus wujud rasa syukur. 


Spontan, Rudy bergerak. Mengambil apa yang aku sampaikan. Dan beberapa saat kemudian, ia tampak semakin nikmat merasakan singkong goreng panas dengan lumuran sambel botol dan sesekali ditaburi kecap.


Melihat itu, aku pun tersenyum dan terus bersyukur di dalam hati. Allah memang tidak pernah ingkar janji. Akan selalu memberi rejeki dari tempat yang tidak terduga. Dan berkat rejeki dalam ketidakterdugaan itulah, aku tetap bisa berbagi dengan sesama. 


“Alhamdulillah. Terimakasih banyak, om. Nggak kebayang sama Rudy, kalau hari ini akhirnya masih bisa makan,” kata Rudy, setelah menghabiskan singkong goreng satu piring yang dikirimkan komandan pengamanan rutan.


“Emang kamu seharian belum makan ya?” tanyaku, sambil menatap wajahnya.


Anak muda yang tersangkut kasus penggelapan kendaraan milik bosnya itu, menggelengkan kepalanya dengan lemah.     


“Kenapa kamu nggak makan?” tanyaku lagi.


“Rudy nggak punya uang, om. Om Basri dan om Dino juga nggak beli makanan. Juga nggak ada yang kasih makanan hari ini. Jadinya, Rudy ya nggak makan. Bersyukur om kasih Rudy singkong goreng ini,” tuturnya, dengan polos.


“Kan kamu yang setiap minggu nagihin uang kunci sama uang air, masak nggak dikasih sama sekali. Harusnya kamu tetep dapet bagianlah, Rud. Itu modal kamu buat makan. Bilang ke Basri sama Dino itu,” kataku lanjut.


“Nggak beranilah om ngomong gitu. Rudy sudah bersyukur dijadiin OD disini. Nggak perlu lagi keluar uang mingguan, tinggal buat makan aja yang dipikirin. Itu juga nunggu kalau kakak dateng, sebulan sekali,” ujar Rudy.


Aku terdiam. Bisa aku bayangkan, betapa berat kehidupan yang mesti dijalani Rudy. Pun ratusan tahanan lain yang berstatus AI alias anak ilang. Tahanan yang tidak pernah diurus keluarganya. 


Namun, apalah dayaku. Semua kebutuhanku pun, sepenuhnya tergantung pada pemberian istriku. Dilengkapi adikku Laksa, serta adik-adik kandungku yang semuanya tinggal jauh dari kota tempatku menjalani penahanan. 


Dan sesekali, ada kiriman dari kawan-kawan, juga kebaikan hati komandan pengamanan. Dalam segala keterbatasan dan ketergantungan itulah –sesungguhnya- hari-hari yang dilakoni para tahanan.


Baru beberapa saat aku menulis pada buku harian seraya menelungkupkan badan di atas kasur, terdengar suara beberapa sepatu sipir berjalan dengan cepat. Lewat di depan kamarku. Dan tidak lama kemudian, ada pintu sel yang dibuka dengan cepat.


“Semua keluar. Jangan bawa apa-apa,” terdengar sebuah teriakan kencang dari seorang sipir.


Aku menghentikan aktivitas menulis. Setelah memasukkan kembali buku dan pulpen ke dalam tas, aku pun turun dari kasur. Menuju ruang depan. Tampak Rudy berdiri di depan pintu.


“Ada apa, Rud?” tanyaku, sambil mendekat ke pintu depan.


“Razia, om. Di kamar 18,” sahut Rudy tanpa menoleh.


Aku pun keluar kamar. Meski tetap berdiri di depan pintu. Aku lihat, belasan penghuni kamar 18 keluar kamarnya. Berdiri dengan posisi berbaris di depan kamar, dan sebagian lainnya berada di tepian taman. 


Tampak tiga petugas sipir berada di luar kamar. Tiga sipir lainnya sedang melakukan penggeledahan di dalam kamar. 


“Kap kamar mana? Botolnya disimpen dimana? Kasih tahu aja. Jangan bohong,” kata seorang sipir yang berada di dalam kamar, dengan nada tinggi.


“Saya kap kamar, Dan. Kami nggak ada yang punya botol atau hp di kamar ini,” sahut seorang pria separuh baya yang berada di depan kamar.


“Kalau kami geledah dan ditemuin botol (hp), kami jungkirin kamu ke dalam bak mandi. Pilih bilang apa adanya, atau kami geledah,” sergah sipir itu, tetap dengan suara kencang.


“Silahkan digeledah aja, Dan. Memang nggak ada yang punya hp kok di kamar ini,” kap kamar itu kembali menegaskan, dengan suara bergetar. Ada ketakutan dari nada suaranya.


Saat itu, aku melihat Basri dan Dino juga berada di depan kamar 18. Menyaksikan pelaksanaan razia. Tanpa berpikir panjang, aku pun mendekat.


Seorang sipir yang berjaga di luar kamar, sempat menatapku. Dengan tatapan beringas. Aku beri isyarat, jika aku dari kamar 20. Kamar kepala blok. Ia pun memahami. Dibiarkannya aku mendekat ke kamar 18. 


Keinginanku untuk bisa langsung menyaksikan pelaksanaan razia yang dilakukan petugas sipir, memang sangat kuat. Karena sejak menjadi WBP di rutan, baru kali inilah aku mengetahui adanya razia. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler