Balada Seorang Narapidana (Bagian 161) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 161)

Jumat, 10 Juni 2022, Jumat, Juni 10, 2022


Oleh, Dalem Tehang 


SELEPAS solat Ashar di masjid, aku langsung kembali ke kamar. Mandi dan membuka Alqur’an. Hingga adzan Maghrib terdengar. Seusai menunaikan solat, kembali aku membaca kitab suci. 


Baru setelah Isyaan, aku masukkan lagi Alqur’an ke tempatnya. Dan ku taruh di atas rak, tepat di atas tempat tidurku. Berdampingan dengan foto keluargaku.


“Tumben om ngaji terus dari tadi. Sudah mau makan apa belum sekarang, om,” kata Rudy, begitu melihatku melipat kain sarung dan menaruhkan kupluk pada rak kayu.


“Lagi pengen ngaji aja, Rud. Emang mau makan apa maksudnya,” sahutku.


“Ya, om mau dibuatin mie atau gimana? Kalau mau makan nasi, nanti nunggu pasdal keliling,” lanjut Rudy.


Karena perut memang sudah keroncongan sejak tadi, aku meminta Rudy membuatkan mie rebus. Bila menunggu penjaja makanan pasdal keliling, paling cepat jam 22-an. Perut pasti sudah keburu kembung.


Tidak ada pilihan. Menikmati mie rebus itulah yang bisa cepat tersaji. Ku ambil satu bungkus mie rebus kiriman istriku, juga satu bungkus abon, dari lemari tempat makanan. 


Aku dan Rudy makan malam bersama. Ia membuat mie goreng untuk dirinya. Mie rebus dilengkapi abon, memang sangat nikmat. Meski tanpa telor. 


Sementara, di taman depan kamar, terdengar suara Basri, Dino, dan beberapa sipir tengah berbincang. Sesekali mereka tertawa penuh kegembiraan.


Tergerak untuk menikmati hawa luar yang sejuk pada malam itu, aku pun keluar kamar. Duduk di taman yang ada di depan kamar 18. Didekat taman tersebut, terdapat sebuah kolam berisikan ikan gurame, emas, dan nila. 


Rudy membawakan aku secangkir kopi pahit, dan duduk di sampingku. Saat menyeruput minuman hangat itu, aku mendengar suara bercanda dari beberapa kamar tahanan.


Ku arahkan pandangan berkeliling. Pada beberapa kamar, tampak para tahanan tengah memandangi aku dan Rudy yang sedang kongkow di taman. Mereka hanya bisa melihat dari balik jeruji besi, karena kamarnya digembok. 


Spontan, ada perasaan tidak enak pada hatiku. Berstatus sama-sama tahanan, namun aku lebih memiliki kebebasan untuk keluar kamar kapan saja. 


Sedangkan puluhan tahanan yang ada di beberapa kamar dekat tempat kami berbincang riang, hanya bisa menatap dari balik jeruji besi kamarnya. Tentu dengan beragam pikiran.


“Balik ke kamar aja yok, Rud,” kataku kepada Rudy, sambil membawa cangkir kopi pahitku.


“Nantilah, om. Suntuk di kamar terus,” sahut Rudy, yang tampak terkejut dengan gerakanku yang spontan. Berjalan menuju kamar.


Setelah merapihkan seprai dan sarung bantal guling, ku rebahkan badan di atas kasur tebal dan lebar itu. Mataku menatap plafon kamar. 


Perlahan, batin dan mulutku mengucap istighfar. Aku merasa, caraku menikmati hawa luar kamar beberapa saat lalu, tanpa disadari, telah melukai hati banyak tahanan lain.


Malam semakin larut, suara dari kamar-kamar tahanan pun kian mengecil. Tinggal beberapa yang masih terdengar ada canda tawa. Meningkahi kepenatan sebelum kantuk tiba. Aku terbawa suasana, dan mulailah bersiap untuk mengatupkan mata. Mengistirahatkan pikiran dan perasaan. Menikmati kematian sesaat berupa tidur.


Suara adzan Subuh membangunkanku. Perlahan aku bangkit dari kasur. Karena Basri dan Dino tengah lelap di tempatnya. Di kiri dan kanan posisi tidurku. Betapapun, aku tidak mau mengganggu kenikmatan mereka dalam lelap buaian mimpinya.


Hingga aku memilih solat di ruang kecil, yang memisahkan lantai atas dengan tempat magiccom, teko listrik, juga dispenser. Yang penting tetap bisa lurus berdiri dan sujud serta duduk dengan baik. Sesuai tatanan peribadatan.


Selepas itu, ku ambil cangkir dan minuman sereal satu saset. Baru melangkah pelan. Melewati kaki Rudy yang juga masih tidur, pada bagian depan kamar. Dan membuka pintu, untuk kemudian menuju kamar 8 penaling. Meminta air panas dari dispenser, untuk membuat minuman sereal. Dan kemudian, duduk santai di taman kecil.


Para tamping kebersihan dan tamping air tampak antusias menjalankan tugasnya. Disertai canda tawa dan perbincangan ringan yang menyegarkan. 


Setelah sipir melaksanakan apel pagi, dan minuman sereal di dalam cangkir habis berpindah ke perut, aku keluar blok. Memulai olahraga. Berjalan mengelilingi lapangan. Dilanjutkan dengan mengangkat barbel yang ada di sudut Blok C.


Tepat saat aku akan meninggalkan tempat olahraga barbel, sebuah suara memanggilku. Ternyata pak Hadi. Ia berdiri di balik jeruji besi kamar 12. Aku pun mendatanginya, dan menyalami dari balik teralis besi.


“Apa kabar, pak Hadi?” tanyaku dengan hormat.


“Alhamdulillah sehat. Pak Mario sehat juga kan? Beberapa kali saya lihat pak Mario olahraga angkat barbel di blok ini, tapi tidak mau mampir,” kata pak Hadi. Ada seulas senyum persahabatan ia tunjukkan.


“Maaf, pak. Bukan saya tidak ingin mampir, tapi saya kan belum tahu apakah pak Hadi sudah bangun atau masih tidur. Daripada mengganggu, saya memilih tidak mampir. Kalau sudah tahu begini, kan enak saya mampirnya,” sahutku, juga melepas senyum.


Saling menghargai sesama tahanan, bagiku sangatlah penting. Terlepas apakah hal tersebut akan memberi nilai positif ataukah tidak. Karena betapapun, kami semua sama, sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Sang Khaliq. Yang menjadi sangat naif, jika tidak saling menghargai. 


“Kalau pak Mario mau ngobrol-ngobrol sambil ngopi dulu, saya keluar. Kita ngobrol di gazebo ujung,” kata pak Hadi lagi. Aku hanya menganggukkan kepala.


Tidak lama kemudian, seorang tamping kunci Blok C membuka gembok pintu kamar 12. Pak Hadi keluar kamar, dan kami duduk di gazebo yang tepat berada di depan kamar 15. Kamar paling ujung dari blok tersebut. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler