Balada Seorang Narapidana (Bagian 159) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 159)

Rabu, 08 Juni 2022, Rabu, Juni 08, 2022


Oleh, Dalem Tehang


BANYAK cerita yang disampaikan istriku dan Laksa. Mulai dari sinyal-sinyal yang diberikan jaksa untuk mereka bertemu, beberapa kawan dekat yang menitip salam keprihatinan, hingga perkembangan anak-anak di sekolahnya. 


“Inshaallah hari Sabtu nanti, anak-anak bisa ikut besuk ayah. Mereka sudah kangen bener, pengen dipeluk ayah,” ucap istriku.


Aku hanya menganggukkan kepala. Rasa kangenku kepada anak-anak, memang sudah membuncah. Mereka yang biasa bercerita apa saja kepadaku, sekarang seakan menjadi kehilangan tempat menuangkan beragam persoalannya. 


Pun aku yang biasa memanjakan mereka dengan pelukan, kini merasa kehilangan kebanggaan sebagai ayah, karena tidak bisa setiap saat menumpahkan rasa sayangnya.


“Gimana nurut ayah, ajakan jaksa untuk ketemu itu?” tanya istriku. Tiba-tiba.


“Kan katanya, jaksa itu dulu adik kelas bunda waktu SMA. Sebagai temen, ya temuin aja, nggak masalah. Tapi kalau mau bicara soal perkara ayah, baiknya bunda ditemeni Laksa dan lawyer. Tempatin aja sesuai porsinya,” kataku, dengan hati-hati.


Aku sampaikan beberapa pengalaman dari para tahanan yang tengah memasuki masa persidangan. Betapa lobi-lobi memang sudah menjadi penghias tersendiri di dalam proses hukum formal di negeri ini. 


Namun, semua kembali kepada kita sendiri. Akankah mengikuti permainan dunia hukum sebagai industri, ataukah tetap di jalan lurus dalam menapakinya.


“Nanti bunda diskusiin juga sama lawyer ayah ya. Biar nggak salah langkah,” ujar istriku. 


Ia sangat memahami, betapa diperlukan kehati-hatian dan kecermatan dalam persoalan ini. Karena baginya, tidak perlu mengikuti cara orang lain. Sebab, hidup bukan untuk bertanding, siapa kawan dan siapa lawan. 


Buat istriku, hidup haruslah dengan caranya sendiri, ikut sesuai kemauan dan kemampuan diri sendiri. Dengan demikian, akan tahu dimana kita harus berdiri.  


Laksa yang sejak tadi hanya diam, terus memandangiku. Tampak ada penilaian tersendiri kepadaku.


“Kamu sekeluarga sehat-sehat aja ya, dek?” tanyaku, mencoba mengajaknya bicara.


“Alhamdulillah, kak. Berkat doa kakak, kami sekeluarga sehat. Inshaallah, kakak bener-bener nyaman ya di kamar yang baru sekarang ini,” kata dia, sambil memandangku dengan tatapan serius.


“Alhamdulillah. Kakak ngerasa nyaman kok, dek. Bahkan lebih enjoy dibanding sebelumnya. Tapi namanya juga di penjara, senyaman-nyamannya, tetep aja ngenes,” sahutku, dan memberinya seulas senyuman.


Tampak Laksa juga melepaskan senyuman. Sebuah senyum yang menyiratkan jika ia bisa merasakan apa yang sesungguhnya tengah aku alami saat ini. 


“Yang penting, kakak tetep tenang dan sabar aja. Singa nggak akan pernah loyal sama domba. Domba yang banyak gaya dan berisik, pasti akan dimakan oleh singa,” ujarnya, dengan penekanan.


Aku tersenyum seraya menganggukkan kepala. Laksa semakin membuka tabir, jika ia bisa membaca ketidaknyamanan yang tengah aku sembunyikan. 


“Yang elok itu, kalau singa dan domba bisa bersahabat tanpa nunjukin keegoisan masing-masing sebenernya ya, dek. Jadi, kebersamaan mereka di hutan belantara pun, tetep bisa saling menjaga,” kataku sambil tersenyum, dan Laksa juga tersenyum.


Istriku mengeluarkan nasi bungkus dari kantong plastik yang dibawanya. Berlauk lele bakar sambel, dilengkapi telor dadar goreng. Sambil terus berbincang, aku menikmati makanan yang dibawakan istriku. Dan sesekali, aku menyuapinya. 


“Nanti hari Sabtu, bunda buatin masakan kesukaan ayah ya. Ikan asin sambel goreng, sama sayur asem pakai ceker ayam,” kata istriku, sambil terus menatapku yang tengah dengan lahapnya menikmati nasi bungkus bawaannya.


“Alhamdulillah. Terimakasih, bunda. Ayah memang kangen bener sama masakan bunda itu,” sahutku, dengan tersenyum bangga.


“O iya, kak. Disini kan bisa pegang hp ya,” ucap Laksa, tiba-tiba.


“Sebenernya bisa, dek. Cuma bayarnya mahal. Dan harus didaftarin dulu. Tapi, emang aman kalau ikut pola itu,” kataku.


“Berapa emang bayarnya, ayah?” tanya istriku, penasaran.


“Infonya sih, sekarang Rp 1,5 juta sebulannya. Kalau dulu, pernah sampai Rp 3 jutaan. Itu kata OD di kamar ayah yang sekarang. Bener nggaknya, ayah belum bisa mastiin,” jelasku.


“Coba nanti aku tanya sama kawan yang komandan sipir disini ya, kak. Siapa tahu dia bisa bantu,” sambung Laksa.


“Nggak usah, dek. Komandan itu sudah banyak bantu kakak selama ini. Malu kakak. Nanti kakak tanya sama kawan-kawan yang pegang hp disini,” sahutku dengan cepat.


“Ya sudah kalau nurut kakak baiknya begitu. Kakaklah yang lebih paham gimana situasinya disini,” tanggap Laksa. Legowo.


“Komandan itu baik bener sama kakak, dek. Banyak hal dia bantu. Bahkan sering beliin kakak rokok dan makanan. Juga ngajak kakak keliling kompleks rutan,” kataku lagi.


“Oh ya. Kakak pernah diajaknya keliling ya,” kata Laksa, menyela.


“Iya, pernah, dek. Kakak nilai, itu cara dia kasih tahu ke para sipir juga tahanan, kalau kakak deket sama dia, jadi jangan diganggu. Pesannya semacam itu, dengan ngajak kakak ikut dia ngecek semua kamar di tiga blok yang ada disini,” uraiku panjang lebar.


“Alhamdulillah. Orangnya memang baik kok, kak. Sopan dan familiar. Kelihatan pergaulannya luas dan berpengalaman,” ucap Laksa kemudian.


Ketika suara adzan Dhuhur menggema dari masjid, istriku Laksmi dan adikku Laksa pun berpamitan. Satu kantong plastik berisi makanan dan minuman diberikan istriku untuk aku bawa ke kamar.


Laksa memberiku beberapa bungkus rokok dan sejumlah uang di dalam amplop yang tertutup.


“Nggak usah kasih uang teruslah, dek. Kamu juga kan banyak keperluan. Kalau kakak perlu, nanti ayukmu yang sampein,” kataku kepada Laksa.


“Nggak apa-apa, kak. Ini memang rejeki kakak, aku cuma nyampein titipan dari Allah aja,” jawabnya, dan langsung memelukku penuh haru.


Sesaat sebelum berpisah, aku cium dan peluk istriku penuh dengan rasa cinta dan kebanggaan. Betapapun, ia adalah penyemangat hidupku. Dan dalam keterpurukan semacam inilah, makna kehadirannya semakin aku sadari. Begitu sangat berarti. 


Setelah istriku dan Laksa menghilang sosoknya dibalik pintu gerbang untuk masuk ke ruang pemeriksaan depan, baru aku melangkah dari depan kantor rutan. 


Saat akan memasuki pintu gerbang yang memisahkan kompleks tahanan dengan kantor rutan, sipir yang tadi memperbolehkan aku masuk kawasan steril meski tidak memakai kaos bertuliskan WBP, tengah duduk di samping pos penjagaan luar.


Ku dekati dia dan menyalaminya, sambil mengucapkan terimakasih atas bantuannya. 


“Sama-sama, om. Saya saudaranya Juli, kawan om. Maaf kalau baru ngenalin diri sekarang,” kata sipir, yang di kemeja dinasnya tertulis namanya: Mirwan.


“O iya, Juli ya. Alhamdulillah. Juli cukup dekat dengan om selama ini. Salam buat dia. Terimakasih ya, Mirwan. Om di kamar 20. Kalau ada waktu, main-main ke tempat om,” tanggapku.


“Siap, om. Nanti saya usahain main ke tempat om, kalau sedang jadwal piket. Sekarang om mau balik ke kamar, apa langsung ke masjid,” ujar Mirwan.


“Ke masjid ajalah. Dhuhuran sekalian, baru balik ke kamar,” sahutku, pendek.


“Kalau gitu, bawaannya taruh disini aja dulu, om. Nanti setelah om dari masjid, tinggal ambil. Daripada dibawa ke masjid,” kata dia, memberi saran.


Aku terima saran Mirwan. Kantong plastik berisi makanan dan minuman, juga rokok dari Laksa, aku titipkan kepadanya. Dan setelah dibukakan pintu gerbang, aku langsung menuju masjid. Ikut dhuhuran berjamaah.      


Seusai solat dan mengambil bawaan istriku yang aku titipkan kepada sipir Mirwan di pos pengamanan luar, aku kembali ke kamar. Tampak Basri dan Dino sedang lelap tidur.


Aku buka kantong plastik yang berisi bawaan istriku. Selain beberapa jenis makanan dan minuman sasetan, juga terdapat foto keluarga dengan bingkainya. 


Ku taruh foto berbingkai itu di atas rak kayu, tepat di atas tempat tidurku. Berdesir kencang hatiku saat memandangi dengan sepenuh hati foto tersebut. 


Terasa ada sayatan perlahan yang aku rasakan. Pedih. Perih. Dan rasa bersalah kepada istri serta anak-anak, spontan menggeliat kuat di dalam batinku. Menggelegak tidak menentu. 


Buru-buru ku alihkan pandangan. Untuk menepis gelegak keharuan dan rasa bersalah yang begitu mengemuka. Aku tidak ingin, Basri dan Dino tiba-tiba terbangun, dan melihatku tengah diliputi keterpurukan. 


Selama menjalani kehidupan sebagai tahanan, aku telah belajar banyak untuk bisa memilah tampilan lahiriyah dengan menutup kencang-kencang gelegak tidak beraturan secara batiniyah. Berkamuflase dengan diri sendiri, adalah karakter yang harus ditonjolkan di dalam keseharian.


Karena di dalam tahanan, tidak ada rasa kasihan. Jarang ada saling pengertian. Utamanya bila tampak begitu terpuruknya oleh keadaan. Maka, kita hanya akan menjadi jajahan. Mangsa bagi orang-orang yang pandai memanfaatkan kesempatan. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler