Balada Seorang Narapidana (Bagian 156) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 156)

Minggu, 05 Juni 2022, Minggu, Juni 05, 2022


Oleh, Dalem Tehang   

 

BEGITU asyiknya kami berbincang di teras depan pos pengamanan dalam, sampai akhirnya terlihat para tahanan keluar dari blok masing-masing. Waktu menunjukkan menjelang adzan Ashar. 


Selama ini, dari pukul 15.00 sampai 17.00, para penghuni rutan memang diberi kesempatan untuk menikmati kebebasan dengan keluar kamar. Setelah sebelumnya pada pukul 11.00 hingga 13.00.


Waktu itulah yang banyak dipergunakan untuk berolahraga, berjamaah ke masjid, atau menikmati beragam makanan yang disediakan kantin, juga menghubungi keluarga melalui telepon umum yang ada di wartelsus. Atau sekadar bercengkrama dengan sesama. 


Begitu suara adzan menggema, aku dan Ino berpamitan kepada komandan pengamanan rutan, juga pak Hadi. Kami langsung menuju masjid. 


Seusai solat, aku bertemu Aris dan Hasbi. Mereka mengajakku menonton kawan-kawan tahanan yang sedang bermain bola.


Sambil duduk di tepian selasar, kami menikmati teh celup yang dibeli Aris dari kantin. Juga beberapa potong gorengan.


Permainan sepakbola yag dipertontonkan penghuni rutan petang itu, menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Apalagi dihiasi dengan teriakan-teriakan penuh keceriaan.


Setelah minuman dan panganan ringan tidak bersisa lagi, aku pamitan kepada Aris dan Hasbi untuk kembali ke kamar.


“Ngapain buru-buru sih, Be?” tanya Aris.


“Mau mandi, Ris. Gerah bener rasa badan,” sahutku, dan terus berjalan menuju kamar 20. Tempatku yang baru.


Begitu masuk kamar, aku lihat Basri dan Dino sedang mengobrol. Duduk di tempat tidur masing-masing. Aku pun bergabung. Mencoba membangun komunikasi yang baik dengan penanggungjawab Blok B tersebut. Yang dikenal dengan sebutan Kepala Blok.


Namun, pembawaan mereka masih tetap tidak bersahabat. Cuek. Bahkan langsung diam. Tidak melanjutkan perbincangannya lagi.


“O iya, aku pengen tahu, gimana soal kewajiban di kamar ini?” tanyaku, sambil menatap Basri dan Dino.


Keduanya bersamaan hanya mengangkat bahu. Tanpa mengeluarkan sepotong kata pun. Cukup lama aku menunggu jawaban.


“Tanya aja sama Rudy. Dia yang tahu soal kebutuhan kamar,” ujar Basri, beberapa saat kemudian.


Dan setelahnya, Basri bangkit dari tempat duduknya. Berjalan keluar kamar. Tidak berselang lama, Dino juga bangkit dari tempatnya. Mengikuti apa yang dilakukan Basri. Keluar kamar. 


Jengah sesungguhnya aku dengan perilaku mereka. Namun, aku mulai terbiasa untuk cukup mentertawakan situasi separah apapun yang ada, dan hal tersebut lebih baik daripada menyimpan kesal di hati.


Ketika aku sedang melipat pakaian kotor untuk dimasukkan ke kantong plastik khusus, selepas mandi sore, Rudy masuk kamar. 


“Darimana aja om, hampir seharian nggak balik-balik ke kamar,” kata dia, menyapaku.


“Tadi diajak komandan muter-muter. Ke Blok A dan C. Lanjut ngobrol di pos. Habis asharan di masjid, baru balik,” sahutku dengan kalem.


“Om sudah makan siang?” tanya Rudy lagi.


“Sudah. Tadi d Blok A. Diajak makan sama Gerry. Emang kamu nyiapin makan om, Rud,” ucapku, seraya menatapnya.


“Ya nggaklah, om. Kan om nggak ada perintah buat Rudy siapin makan,” jawabnya. Polos.


“Emang ada makan siang atau malem di kamar kita ini?” tanyaku lanjut.


“Kalau om mau, nanti aku beliin di kantin. Mumpung belum tutup. Kalau om Basri sama om Dino kan, makannya nggak nentu. Kebanyakan juga pesen sama sipir yang lagi tugas,” kata Rudy.


“Kalau kamu sendiri kayak mana makannya?” kataku, penasaran.


“Ya belilah, om. Tapi sering juga dibeliin sama om Basri atau om Dino. Tugas aku di kamar ini lebih banyak nyiapin minuman sama bersih-bersih aja. Sesekali nyuciin baju mereka,” urai Rudy.


“O gitu. Ya udah, om minta tolong beliin nasi di kantin ya, Rud. Nasi sama lauknya telor sambel dan kerupuk aja. Kalau kamu mau, beli sekalian,” kataku, seraya mengeluarkan sejumlah uang.


“Aku sudah ada stok buat makan malem kok, om. Tadi dikasih kawan dari kamar sebelah. Beli buat makan om aja yang penting,” sahutnya, dan bergerak meninggalkan kamar untuk menuju kantin.


Sambil menikmati air mineral botol dan sebatang rokok, aku duduk di taman kecil yang tepat berada di depan kamar. Seorang pria seusiaku dengan postur tinggi besar dan kumis melintang, mendekat. Duduk di depanku.


“Baru ya di kamar 20, bang. Kenalin namaku Sibli. Aku di kamar 19,” ujar pria itu dengan suara ramah. Ia mengulurkan kedua tangannya. Penuh kesantunan.


“O iya. Aku Mario, pak Sibli,” jawabku, juga menyambut uluran tangannya dengan kedua tanganku. Bergenggaman erat. 


“Pak Sibli sekamar sama Ino ya?” tanyaku. Ia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Ramah. 


“Tadi Ino cerita. Hari ini dia dapet surprise yang luar biasa. Gara-gara kenal bang Mario, dia bisa ikut komandan keliling blok. Juga ngobrol lama di pos jaga. Seneng bener dia hari ini,” tutur pak Sibli, kemudian.


“Alhamdulillah. Kebetulan pas kami lagi ngobrol disini, komandan ngajak jalan-jalan, pak. Ya, ketimbang cuma duduk-duduk aja, kami ikut kemana komandan melangkah,” kataku, dengan tersenyum.


Pak Sibli bercerita, ia berprofesi sebagai anggota Polri. Karena berselisih soal tanah dengan atasannya, akhirnya ia dilaporkan telah melakukan tindak pidana pemalsuan sertipikat dan penggelapan. 


“Aku sudah enam bulan disini, bang. Kasusku masih sidang. Belum putus-putus juga. Aku juga lagi jalani sidang disiplin oleh institusiku,” sambung pak Sibli, yang memiliki pangkat cukup tinggi.


Aku terdiam. Begitu memprihatinkan nasib pak Sibli. Memiliki pangkat cukup mentereng, hanya karena berselisih persoalan tanah dengan atasannya, mesti merasakan pengapnya penjara dan terkungkungnya kebebasan. 


Tidak hanya itu. Ia juga mengisyaratkan, dirinya pun terancam diberhentikan dengan tidak hormat dari kesatuannya. Tempatnya mengabdi bagi negeri lebih dari 25 tahun ini.


“Emang nggak diupayain damai, pak?” tanyaku.


“Sudah beberapa kali usaha untuk damai itu, bang. Tapi atasanku tetep nggak mau. Dia keukeuh, aku harus masuk penjara dan dipecat dari Polri,” sahutnya, dengan suara bergetar.


“Kayaknya ada dendam lain ya, pak. Bukan sekadar soal tanah aja yang buat atasan sampai segitunya bertindak,” kataku, dan menatap wajah pak Sibli.


“Kayaknya sih emang gitu, bang. Cuma aku sendiri nggak tahu. Ya sudahlah. Setelah banyak upaya gagal, aku jalani aja semua ini. Mau kayak mana lagi,” kali ini suaranya amat pelan. Tercuatkan kesedihan yang mendalam.


“Bener itu, pak. Kenyataan inilah yang harus kita nikmati. Tapi tetep bersyukur dan sabar. Ikhlas-ikhlasin aja. Tuhan kan nggak tidur,” jawabku, setengah menghibur batinnya.


Pak Sibli melepaskan seulas senyum. Kecut. Dan perlahan, aku melihat gerakan kedua telapak tangannya. Mengepal. Ekspresi adanya amarah menggelegak di batinnya. Amarah yang tidak bisa terlampiaskan.  


Sambil menghisap rokok ditangan, aku menatap awan yang tengah bergerak perlahan, beriringan. Mencoba meneriakkan kenyataan sampai ke atas sana. Betapa banyak cerita kehidupan anak manusia yang penuh dengan ketidakterdugaan sebelumnya. 


Dan semakin aku pahami akan kebenaran, bahwa banyak hal di bumi dan di langit daripada yang kita ketahui selama ini. 


Terdengar suara para tahanan yang masuk pintu utama Blok B begitu riuh. Pertanda waktu untuk kembali menghuni sel, telah datang. Dan benar saja. Ratusan orang bergegas untuk secepatnya sampai ke ruangan masing-masing.


Pak Sibli pun berpamitan. Untuk masuk lagi ke kamarnya. Kamar 19. Tepat di samping kamarku. Sedangkan aku, tetap saja duduk santai di taman kecil. Sambil menikmati suara burung parkit yang tiada henti bersahutan, meningkahi cucuran air dari kolam kecil di sebelahnya. 


Saat adzan Maghrib terdengar, barulah aku masuk kamar. Ingin solat di kamar saja. Dilanjutkan mengaji. Membaca Alqur’an. 


Dengan harapan, kamar ini membawa ketenangan tersendiri untukku. Kamar yang bisa aku tempati setelah istriku mengeluarkan uang yang cukup banyak. Berjuta-juta rupiah. 


Ketika merenungi kondisi yang tengah aku alami ini, tak ayal, aku pun tersenyum sendiri. Begitu nyata kehidupan itu tidak akan pernah memberi secara tuntas apa yang diidamkan. 


Saat di kamar 8 penaling, meski bersesakan dengan 14 penghuni sel lainnya, aku temukan suasana persahabatan yang kental. Saling mengisi untuk menguatkan peribadatan sebagai wujud pengakuan kemakhlukan yang penuh kenisbian. 


Sebuah kesadaran untuk mengakui kesalahan pada sebagian lelakon kehidupan, begitu mengental dalam perilaku semua penghuni kamar 8 penaling.


Sedang di kamar 20 yang disebut sebagai “kamar raja” di Blok B, meski hanya berisikan empat orang, namun sama sekali tidak aku rasakan yang namanya persahabatan. Dan sangatlah jauh bila mengharap lahirnya sebuah kebersamaan, apalagi kentalnya pemahaman sebagai sesama tahanan dengan nafas setikar seketiduran.


Dalam ketersenyuman menyahuti situasi yang aku rasakan saat ini, terpatrikan di hati bila aku harus lebih fokus untuk memperbaiki diri sendiri, daripada mengeluhkan keadaan yang ada.


Karena terkadang, hal buruk yang terjadi dalam hidup ini, adalah titik yang membuat kita berjalan menuju ke arah takdir yang paling indah.  


Setelah solat Isya dan berdoa, baru aku bergerak dari tempatku. Kasur besar yang tersandar di tembok, mulai ku rebahkan. Ku bersihkan dan rapihkan seprainya. 


“Om makan dulu,” kata Rudy, tiba-tiba.


“Makan bareng ya,” sahutku, sambil turun dari tempatku.


Kami berdua makan di ruang depan. Rudy malam itu menikmati makanan pecel lele, sedang aku nasi telor sambel dan beberapa potong kerupuk. Menikmati dan mensyukuri yang ada, adalah pilihan terbaik. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler