Balada Seorang Narapidana (Bagian 155) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 155)

Sabtu, 04 Juni 2022, Sabtu, Juni 04, 2022


Oleh, Dalem Tehang


INO yang masih duduk di taman, ku ajak mengikuti langkah komandan pengamanan. Kami pun masuk ke Blok C. Mendampingi komandan pengamanan rutan saat melakukan pemeriksaan kamar-kamar. 


Tampak para tahanan memperhatikan aku dan Ino yang berjalan di belakang komandan. Rata-rata mereka mengernyitkan dahinya. Ada keheranan. Juga beberapa sipir lain yang melihat kami mengikuti langkah komandan.


Selepas dari Blok C, kami memasuki Blok A. Setelah memeriksa belasan kamar, aku tanyakan kepada komandan mengenai straffcell. 


Tanpa sungkan, ia mengajakku melihat sel tikus yang menjadi tempat khusus bagi tahanan bermasalah.


Terbengong aku melihatnya. Sel itu sangat kecil. Paling berukuran sekitar 1 x 2 meter saja. Pun hanya dilengkapi fasilitas kamar mandi. Itu juga sangat kecil. 


Untuk melihat langsung straffcell, harus melalui pintu khusus. Yang bukan hanya dilengkapi jeruji dari baja, tetapi juga ditambah dengan kawat berlubang kecil, yang dipasang pada bagian depan jeruji. 


Sehingga tidak bisa untuk memasukkan makanan. Bahkan untuk memasukkan rokok pun, harus sebatang demi sebatang, karena kecilnya lubang kawat.  


Saat itu, ada empat tahanan yang sedang menjalani hukuman dan menghuni starffcell. Mereka mengaku, untuk tidur hanya bisa dilakukan sambil duduk. Kalau pun merebahkan badan, mesti bergantian jadwal tidurnya.    


Selepas melihat strafcell, aku mengajak komandan ke kamar Gerry. Kamar 12. Tepat saat kami di depan kamarnya, Gerry baru saja selesai mandi. 


Melihat aku datang bersama komandan pengamanan rutan, Gerry sempat terbengong. Namun, ia cepat menguasai keadaan.


“Masuk, Dan. Kebetulan sama bang Mario juga. Tadinya aku mau nemuin dia,” ucap Gerry, dengan wajah sungguh-sungguh.


Akhirnya, kami duduk di kamar Gerry. Di tengah kami berbincang ringan, OD kamarnya masuk. Membawa beberapa bungkusan yang baru saja dibeli dari kantin.


“Kita makan bakso dulu ya, Dan. Kebetulan tadi emang sudah beli,” Gerry menawari kami makan bakso. 


Bukan hanya bakso. Gerry juga meminta OD membelikan kami rokok dan air mineral. Juga beberapa makanan ringan lainnya. Bergerak cepat OD kamar Gerry, kembali menuju kantin.


Hingga adzan Dhuhur menggema, baru kami meninggalkan kamar Gerry. Sesampai di pos penjagaan dalam, komandan pengamanan berhenti disana. Aku dan Ino langsung ke kamar masing-masing. 


Setelah mengambil kain sarung dan kupluk khas haji, aku berjalan menuju masjid. Ino rupanya juga akan solat jamaahan. Ia mengejar aku yang berjalan beberapa meter di depannya.


Sekeluar dari masjid, mataku terpaku pada puluhan tahanan yang tengah berkumpul di depan pos pengamanan dalam. 


Semua memakai kemeja putih dengan celana panjang warna gelap, dilengkapi kopiah. Pertanda mereka akan mengikuti persidangan kasusnya.


Aku mengajak Ino untuk mendekat ke pos pengamanan dalam. Ingin melihat prosesi yang mereka lalui ketika akan mengikuti persidangan. Karena ke depannya, entah kapan, hal serupa pasti akan aku alami.


Aku dan Ino berdiri di selasar, sekitar 25 meter dari para tahanan yang bersiap-siap untuk dibawa ke pengadilan. Mendadak salah satu dari mereka mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan telapak tangannya.


“Siapa itu ya, om. Kayaknya negor kita,” kata Ino, yang juga melihat aksi seorang tahanan itu. Aku hanya menggelengkan kepala.


Tidak lama kemudian, tahanan itu berlari. Mendekat ke tempatku dengan Ino berdiri. Ternyata Iyos. Kawan satu kamar saat kami menjalani penahanan di polres.


“Ya Allah, kamu rupanya, Yos. Sudah mau sidang ya,” kataku, begitu ia berada di depanku sekitar 2 meter.


“Mata Babe emang mulai burem sih ya. Jadi aku harus ngedeket dulu, baru bisa ngenalin,” sahut Iyos, yang langsung menyalamiku. 


“Maaf ya, Yos. Bener-bener aku nggak ngenalin kamu. Karena semua pakai baju kayak seragam pegawai gitu sih. Baik-baik ya, Yos. Alhamdulillah, sudah mulai masuk sidang,” kataku, seraya menepuk-nepuk bahunya.


Aku sengaja menepuk-nepuk bahu Iyos dengan pelan. Itu caraku mengirim semangat ketenangan untuk pria pemilik usaha konter hp yang tersandung kasus penadahan barang curian tersebut.


“Ini sidangku yang pertama, Be. Doain semuanya lancar dan cepet beres ya, Be,” ucap Iyos, penuh pengharapan.


“Aku doain kamu, Yos. Yang penting tetep tenang ya. Terima semuanya dengan ikhlas. Semua ini sudah tulisan takdir kita. Nggak usah ngelawan takdir,” sahutku kemudian.


“Aku tetep tenang kok, Be. Apalagi, semua kan sudah ada yang ngatur juga,” lanjut Iyos dengan tersenyum.


“Maksudnya, Yos?” tanyaku, pendek.


“Ya, keluargaku sudah ngelobi jaksa. Sudah ada deal-deal, Be. Aku tinggal ikuti sidang-sidangnya aja. Doain aku nggak lama-lama amat disini ya, Be,” urai Iyos, masih dengan tersenyum.


“Jadi maksudnya, kamu sudah tahu nantinya bakal divonis berapa lama, gitu ya, Yos?” tanyaku lagi. Penasaran.


Pria low profile yang selalu tampil ceria itu hanya menganggukkan kepalanya, dan tetap menebar senyum indahnya.


“Syukur kalau gitu, Yos. Inshaallah, semuanya sesuai yang direncanain ya. Ya sudah sana, gabung lagi sama kawan-kawan yang mau sidang,” ucapku kemudian. 


Dan Iyos pun bergerak cepat. Kembali berkumpul dengan puluhan tahanan yang siang itu akan berangkat ke kantor pengadilan negeri, untuk menjalani persidangan perkaranya masing-masing. 


Aku melihat, komandan pengamanan rutan memperhatikan kami dari depan pos dalam. Begitu tahu aku juga melihatnya, ia melambaikan tangannya. Memanggil. Ku ajak Ino menemuinya.


“Duduk disini saja, pak. Ada hiburan ketemu kawan-kawan yang akan mengikuti sidang,” ujarnya, begitu aku dan Ino sudah masuk ke teras depan pos pengamanan dalam.


Kami duduk di kursi panjang. Memperhatikan satu demi satu tahanan yang akan bersidang, tengah diabsen. Dan tidak lama kemudian, dengan berbaris rapih, mereka berjalan menuju pos pengamanan luar.


“Mau minum kopi, pak. Kalau iya, nanti dibuatkan,” kata komandan pengamanan dengan serius.


Ku tengok Ino. Ia menganggukkan kepalanya. Komandan memerintahkan tamping jaga untuk membuat tiga cangkir kopi. Secara khusus, aku memesan kopi pahit.


“Sebentar lagi kan apel siang, pak. Kami kembali ke kamar dulu, nanti kesini lagi,” kataku, beberapa saat kemudian.


“Tidak usah kembali ke kamar, tidak apa-apa, pak. Nanti saya panggil yang bertugas melaksanakan apel,” sahut komandan pengamanan, dan langsung memanggil seorang sipir yang akan melakukan apel siang bagi tahanan di Blok B.


“Ini pak Mario dari kamar 20, dan Ino dari kamar 19. Mereka ada di pos ya. Saya sedang ada obrolan dengan mereka,” ucapnya kepada sipir yang akan melakukan apel tahanan. 


Dengan sigap sipir itu memberi hormat. Setelah sebelumnya menjawab: “Siap, Dan!”


Di tengah kami terlibat perbincangan, sambil sesekali menyeruput kopi, datang seorang pria berusia 56 tahunan. Memakai kaos berkerah warna putih dipadu celana panjang warna hitam, wajah pria tersebut begitu teduh. Seulas senyum tipis tampak di bibirnya.


“Kesini pak Hadi. Kenalkan, ini pak Mario dan itu Ino. Adek pak Mario ini kawan akrab saya,” kata komandan pengamanan, memperkenalkan kami kepada pria yang baru datang, yang bernama Hadi.


Dengan gayanya yang kalem, disertai seulas senyum penuh simpatik, pak Hadi menyalamiku, juga Ino.


“Saya Hadi, pak Mario. Saya tinggal di Blok C 12. Sesekali main ke tempat saya ya,” ucapnya, tetap dengan melepas senyuman. Ia memiliki gaya tersendiri untuk memperkenalkan dirinya. 


“Terimakasih, pak Hadi. Inshaallah, besok-besok saya main kesana. Seneng saya kenal pak Hadi,” sahutku penuh hormat.


Meski usia kami tidak jauh berbeda, namun pak Hadi tampak lebih tenang pembawaannya. Bicaranya pun runtut dan pelan. Penuh pengendalian. Mengisyaratkan, ia sosok yang kenyang asam garam kehidupan, yang tentunya setelah melewati tempaan cukup panjang.


“Setiap siang, pak Hadi pasti main ke pos disini, pak Mario. Ya, sekadar mengobrol-ngobrol saja. Sesekali sambil bermain catur. Dia ini jago catur,” kata komandan pengamanan, seraya memandang pak Hadi.


“Memang boleh ya pak kalau main ke pos sini,” ujar Ino.


“Ya, boleh saja. Tidak ada larangan. Tentu sepanjang waktunya pintu kamar dibuka. Kalau malem, tidak boleh. Semua tahanan harus ada di kamar masing-masing, tanpa terkecuali,” jawab komandan pengamanan.


Aku perhatikan cara pak Hadi menghisap rokok yang ada ditangannya. Perlahan. Penuh penghayatan. Pun saat melontarkan asap dari mulutnya. Begitu pelan dan terukur. Menunjukkan jika ia adalah sosok yang selalu penuh dengan perhitungan dalam segala hal.


“Kalau pak Mario bisa main catur, ayo kita main. Cari hiburan aja. Disini yang penting jangan sampai suntuk perasaan dan pikiran. Kalau semuanya terkendali, tetep enak makan dan tidur juga,” kata pak Hadi dengan memandangku.


“Nah, itu masalahnya, pak. Saya nggak bisa main catur. Tahu gerakan masing-masing pion, tapi nggak paham gimana cara main yang baik,” jawabku seraya tersenyum. 


“Kalau sudah tahu dasarnya, tinggal biasain mainnya aja, pak. Dulu waktu awal masuk sini, saya malah nggak tahu gimana gerakan masing-masing pionnya. Tapi, karena diajari kawan-kawan sipir dan biasa main, akhirnya ya mulai bisa. Dan kecanduan malah,” katanya lagi, seraya melepaskan tawanya. Renyah. Meski hanya sesaat.


“Pak Hadi ini pemegang teguh pepatah Jepang, pak Mario. Jatuh tujuh kali, bangkitnya delapan kali. Dan dia tidak pernah merasa kalah. Bagi dia, menang atau belajar. Jadi kalah itu, buat dia adalah belajar,” jelas komandan pengamanan rutan mengenai sosok pak Hadi.


Aku mengangguk-anggukkan kepala. Memahami betapa kuat mental dan ketenangan jiwa pak Hadi. Yang tentu, itu semua terwujud akibat kerasnya deraan kehidupan yang ia jalani selama ini. 


Dan bisa jadi, lebih menyayat hati dibandingkan dengan hidup di bui seperti sekarang ini. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler