Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Bank Indonesia Terkini -->

Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Bank Indonesia Terkini

Sabtu, 21 Mei 2022, Sabtu, Mei 21, 2022

Bbs-news.id, Banjarmasin - Perkembangan Ekonomi Nasional Pemulihan ekonomi global diprakirakan terus berlanjut meski lebih rendah dari proyeksi sebelumnya seiring ketegangan geopolitik Rusia – Ukraina yang terus berlanjut dan berdampak pada perlemahan transaksi perdagangan, kenaikan harga komoditas, dan ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah penyebaran Covid-19 yang mulai melandai.

Kepala Kantor  perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan Imam Subarkah, mengatakan perbaikan ekonomi domestik diprakirakan terus berlangsung didukung oleh peningkatan konsumsi, investasi nonbangunan, dan kinerja ekspor, sejalan dengan mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi yang membaik. Sejumlah indikator dini, seperti penjualan eceran, ekspektasi konsumen, dan PMI manufaktur mengindikasikan pemulihan ekonomi domestik terus berlangsung. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh kinerja positif berbagai lapangan usaha, seperti industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan pergudangan, serta informasi dan komunikasi. Hal ini di sampaikan  Kepala Pwk BI Kalsel kepada awak media di Banjarmasin , Jumat 20/05.

Untuk keseluruhan tahun 2022, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai 4,5 – 5,3%.  Pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang terdampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan perdagangan dunia yang lebih rendah akibat ketegangan geopolitik Rusia – Ukraina yang masih berlanjut.  

Respon Kebijakan Bank Indonesia Dengan pertimbangan atas hal-hal tersebut, Rapat Dewan Gubernur pada Bulan April 2022 memutuskan bahwa Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut melalui berbagai langkah, antara lain: 

memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar; 

melanjutkan implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif; melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK); memastikan kecukupan kebutuhan uang dan kesiapan BI-FAST; melonggarkan kebijakan penyimpanan uang elektronik; dan memperkuat kebijakan internasional, termasuk promosi perdagangan dan menyukseskan Presidensi G20 tahun 2022.

Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal (CEMUMUAH) serta inklusif dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.  Di sisi non tunai, Bank Indonesia terus mendorong inovasi sistem pembayaran termasuk dalam rangka mendukung elektronifikasi keuangan pemerintah dan percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) serta mendorong akselerasi Ekonomi dan Keuangan Digital (EKD) yang inklusif dan efisien melalui kebijakan sistem pembayaran nontunai antara lain melalui  layanan BI-FAST melalui mobile banking  serta meningkatkan komunikasi kepada masyarakat dan lembaga terkait. Sinergi dengan Pemerintah juga terus dilakukan untuk mendorong percepatan digitalisasi pembayaran melalui elektronifikasi bansos, transaksi Pemda, dan transportasi. 

Di sisi tunai, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada triwulan I 2022 meningkat 13,58% (yoy). Bank Indonesia memperkuat layanan kas kepada masyarakat melalui implementasi digitalisasi layanan kas keliling (PINTAR), menjaga ketersediaan uang tunai, termasuk tambahan penyediaan uang sebesar Rp27,4 triliun sehingga menjadi Rp202,7 triliun selama periode bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1443H serta memperkuat kerja sama kelembagaan dalam pengedaran uang ke seluruh wilayah NKRI.

Perkembangan Ekonomi dan Inflasi Kalimantan Selatan Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan I 2022 tetap tumbuh positif yaitu sebesar 3,49% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,55% (yoy). Perlambatan antara lain disebabkan oleh kinerja lapangan usaha (LU) pertambangan yang terkontraksi sebagai dampak dari pemberlakuan larangan ekspor batubara pada awal tahun 2022. Selain itu, keterbatasan bahan baku TBS akibat faktor trek turut mempengaruhi perlambatan kinerja sektor pertanian dan industri pengo. (Andra/SR) 

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler