Ramadhan Dalam Lapas, Tetap Semangat Beribadah walau Bergantian -->

Ramadhan Dalam Lapas, Tetap Semangat Beribadah walau Bergantian

Minggu, 10 April 2022, Minggu, April 10, 2022
Para narapidana muslim dan petugas melaksanakan Shalat Tarawih di Masjid At-Taubah di Lapas Bagansiapiapi Kabupaten Rohil, Riau, Jumat (8/4/2022).(Dok. Kanwil Kemenkumham Riau)

PEKANBARU - Tinggal di dalam penjara tidak menyurutkan semangat narapidana yang beragama Islam untuk beribadah saat Ramadhan.

Meski, para narapidana itu berada di penjara yang paling padat di Indonesia, Lembata Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi.

Lapas itu terletak di Kabupaten Rokan Hilir yang berada di wilayah utara Provinsi Riau.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Riau Muhammad Jahari Sitepu menyebutkan, dulunya Lapas Bagansiapiapi hanya sekelas rumah tahanan negara (Rutan).

Sejak 2020, seiring dengan banyaknya jumlah narapidana yang dijebloskan, lapas itu naik kelas menjadi Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi.

"Daya tampung Lapas ini hanya 98 orang.  Tapi, per tanggal 8 April 2022, jumlah penghuninya sebanyak 970 orang. Artinya terjadi over kapasitas sebesar 990 persen, menjadikannya lapas terpadat di Indonesia," kata Jahari dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (9/4/2022) malam.

Namun, hal itu tak mengendorkan program pembinaan di lapas. Meski, Jahari mengaku terdapat sejumlah pembatasan dalam melakukan pembinaan.

Selama Ramadhan, Jahari menyebut, warga binaan harus bergiliran menyelenggarakan ibadah di Masjid At-Taubah di lingkungan Lapas Bagansiapiapi.

Hal itu karena keterbatasan tempat dan petugas yang menjaga para narapidana.
Jahari menyampaikan, kunci keberhasilan petugasnya dalam menjaga lapas tetap kondusif adalah menanamkan rasa kebersamaan antara petugas dan narapidana. Padahal, jumlah penghuni tak sebanding dengan petugas.

Selain itu, harus selalu mengajak warga binaan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaannya.

"Makanya sering saya ingatkan kepada petugas, anggap warga binaan sebagai saudara sendiri dan perlakukan mereka dengan sopan. Kepada warga binaan juga saya sampaikan, Lapas ini adalah rumah kita bersama, harus kita jaga keamanan dan ketertibannya. Tolong hormati juga petugas sebagai pembina," ujar Jahari.

Jahari menyatakan, mulai tahun ini Kemenkumham akan membangun Lapas baru di Ujung Tanjung, Kabupaten Rohil, untuk mengatasi kelebihan penghuni Lapas Bagansiapiapi.

Para narapidana muslim di Lapas Bagansiapiapi Kabupaten Rohil, Riau, mengadakan Tadarus Al Qur'an pada malam Ramadhan, Jumat (8/4/2022).(Dok. Kanwil Kemenkumham Riau)

Semangat beribadah di masjid sempit

Semangat beribadah di masjid sempit
Jahari melihat, sempitnya area masjid tidak menurunkan semangat dan antusiasme warga binaan muslim untuk menjalankan kewajibannya beribadah.

"Dengan berseragam layaknya santri, warga binaan bersiap-siap menuju Masjid At-Taubah, tempat mereka mengejar ridho Allah SWT," ujar Jahari.

Sebelum masuk masjid, kata dia, terlebih dahulu dilakukan penghitungan jumlah warga binaan yang mengikuti kegiatan agar tertib.
Warga binaan yang kurang sehat, dilarang mengikuti ibadah di masjid.

"Petugas Lapas juga sesekali mengajak warga binaan bercanda untuk menghilangkan ketegangan, namun tetap dalam batasan," kata Jahari.

Warga binaan pun merasa bergembira diberi kesempatan beribadah.

"Terima kasih bapak-bapak petugas Lapas yang telah mengizinkan kami beribadah. Kami akan jaga, agar Lapas ini tetap aman dan tertib," ujar salah satu narapidana penghuni Blok A kepada petugas.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi, Wachid Wibowo menyampaikan, selain pelaksanaan shalat tarawih, warga binaan juga mengisi malam Ramadhan dengan melakukan Tadarus Al Qur'an.              

Setiap malamnya, ada 80 sampai 90 warga binaan yang ikut shalat tarawih. Kemudian, empat sampai lima orang melanjutkan tadarus dengan penjagaan petugas di beberapa titik.

"Di bulan Ramadhan ini, kami tugaskan pejabat dan staf kantor membantu pengamanan ibadah malam hari. Petugas juga ikut melaksanakan Tarawih dan Tadarrus," sebut Wachid.

Hal itu, kata dia, untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan sehingga warga binaan merasa Ramadhan seperti di rumah sendiri.

Selama Ramadhan, tambah dia, pada siang hari pihaknya juga menggelar ceramah agama, shalat fardhu berjamaah di masjid, program berantas buta Al-Quran serta tadarus pagi dan siang.

"Tentunya semua warga binaan yang beragama islam memiliki kesempatan yang sama, namun pelaksanaannya bergiliran karena tempat dan petugas terbatas," jelas Wachid.

Dikutip dari KOMPAS.com

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler