Puluhan Ribu Warga Brebes Menganggur, Kebanyakan Laki-laki -->

Puluhan Ribu Warga Brebes Menganggur, Kebanyakan Laki-laki

Selasa, 12 April 2022, Selasa, April 12, 2022

BREBES – Angka pengangguran di Kabupaten Brebes hingga akhir 2021 masih tinggi. Jumlahnya mencapai 85.969 orang atau 9,78 persen. Di Jawa Tengah, jumlah angkatan kerja Kabupaten Brebes tertinggi kedua setelah Kota Semarang.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Brebes, sejak pandemi COVID-19, angka pengangguran usia produktif kerja di Kabupaten Brebes mengalami peningkatan. Tahun 2019 sebanyak 66.232 orang atau 7,39 persen, tahun 2020 meningkat menjadi 89.494 orang atau 9,83 persen.

Tingginya angka pengangguran di Kabupaten Brebes berbanding terbalik dengan optimisme Pemkab Brebes terhadap Kawasan Industri Brebes (KIB). Sebab hingga saat ini, kebutuhan tenaga kerja di Kabupaten Brebes mayoritas adalah perempuan. Utamanya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri pabrik.

“Peluang kerja sebetulnya banyak, hanya saja peluang kerja untuk laki-laki memang sedikit,” kata Kepala Dinperinaker Brebes, Warsito Eko Putro, Selasa(12/4/2022).

Menurut dia, banyaknya pengangguran yang kebanyakan laki-laki ini disebabkan salah satunya adalah mayoritas pabrik di Kabupaten Brebes membutuhkan tenaga perempuan. Selain itu, kata dia, perusahaan menganggap perempuan lebih teliti dan detail dalam bekerja di sektor industri garmen dan pabrik sepatu.

“Di Brebes sektor industri yang ada itu baru pabrik garmen dan sepatu, kemudian pabrik rokok. Jadi mereka lebih membutuhkan tenaga kerja perempuan karena dianggap lebih teliti saat bekerja,” jelasnya.

Eko menerangkan, komposisi pekerja laki-laki yang berharap pekerjaan dengan adanya KIB masih di bawah 30 persen dari total tenaga kerja yang bekerja di pabrik.

Selain itu, lanjut dia, juga diisi oleh tenaga kerja perempuan yang berasal dari Kabupaten Brebes dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini memicu masyarakat menganggap bahwa Pemkab Brebes tidak bisa memfasilitasi calon tenaga kerja laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan di daerahnya.

“Selama ini masyarakat menganggap kami itu tidak memfasilitasi calon pekerja laki-laki. Karena memang yang hanya bisa bekerja itu perempuan dan komposisi tenaga kerja laki-laki belum sampai 30 persen. Makanya kami tengah berupaya agar komposisi tenaga kerja di KIB bisa 30 persen laki-laki dan 70 persen perempuan,” pungkasnya. (*)

Sumber PP

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler