Balada Seorang Narapidana (Bagian 115) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 115)

Senin, 25 April 2022, Senin, April 25, 2022


Oleh, Dalem Tehang


OKE, Adam. Wujudin niat baikmu itu dengan sungguh-sungguh. Sekarang gimana dengan kewajiban kamar,” kataku, memotong pembicaraan.


“Siap laksanakan perintah. Tapi nunggu besukan ya, Be. Maklum, aku nggak dipegangin uang kecuali buat beli rokok dan sesekali beli gorengan aja,” sahut Adam. Ada senyum kecut di sudut bibirnya.


“Yang penting sepakat buat penuhi kewajiban kamar dan Atmo sebagai bendahara, pasti nyatet janji kalian. Sekarang giliran kamu,” kataku lagi, seraya memandang seorang pria berusia 40 tahunan yang sejak tadi duduk sambil mengatupkan kedua kakinya ke dada.


“Assalamualaikum. Panggil aja aku Agus. Sekarang umurku 45 tahun. Hampir sebulan ini aku ditahan, sebelumnya di kamar 8. Aku kena kasus tabrak lari,” kata pria itu.


“Bisa ceritain kasusnya, Agus?” tanya Dian.      

 

Agus menceritakan, malam itu ia yang tengah membonceng istrinya terjebak dalam aksi balap liar belasan anak muda. Ketenangannya saat mengendarai sepeda motor, terganggu dengan kegiatan ilegal tersebut. 


Dan ujungnya, salah satu pembalap liar itu menyenggol kemudi sepeda motor yang dikendarainya. Menyebabkan ia terjungkir di tepian jalan bersama sang istri.


“Istriku mengalami robek di bagian dagu dan tulang tangan kirinya retak. Setelah dua sampai tiga jam berobat di rumah sakit, ku antar istriku pulang, dan aku keluar lagi. Ke tempat anak-anak muda balapan liar itu,” urai Agus lagi.


“Ngapain balik lagi ke tempat itu, om?” tanya Nasir.


“Aku pengen kasih pelajaran sama anak muda yang buat kami kejungkel itu,” tegas Agus, dengan ada gusar.


Ia menguraikan, setiba di lokasi balap liar, ia berpura-pura menjadi penonton sambil bertanya ke kanan-kiri, siapa tadi yang membuat pasangan suami istri terjungkir di pinggir jalan akibat disenggol motornya.


“Usahaku cari tahu siapa pelakunya, berhasil. Ada tiga orang yang ku tanya, dan semua memastikan kalau itu orangnya,” lanjut Agus.


“Terus, apa yang om lakuin?” Nasir kembali bertanya.


Agus mengaku mencermati aktivitas anak muda yang membuatnya terjungkir tadi. Saat anak muda itu berjalan bolak-balik ke motor dan kumpulan kawan-kawannya, Agus pun bersiap untuk melakukan aksi balas dendam.


“Aku duduk di atas motor. Nah, pas anak itu nyebrang jalan, aku tancap gas dan tabrak dia. Aku sempet jatuh, tapi langsung kabur. Besoknya, aku baca di media, anak itu kritis dan dirawat di rumah sakit,” katanya lagi.


“Ketangkepnya kayak mana, om?” Hasbi kali ini ikut bertanya.


“Sekitar tiga hari kemudian, sore itu aku pulang kantor. Di rumahku ada tiga orang tamu sudah menunggu. Ternyata polisi. Mereka memintaku cerita apa adanya soal kejadian tabrak lari itu. Karena polisi sudah dapat gambar dari CCTV ruko tempatku ngobrol dengan kawan-kawan anak yang ku tabrak. Ya sudah, aku pasrah. Dan setelah diproses, aku ditahan ini,” sambung Agus, seraya tersenyum.


“Anak yang ditabrak itu gimana sekarang kondisinya?” Nasir bertanya lagi. Ada rasa penasarannya.


“Aku dapat kabar, seminggu lalu dia meninggal. Makanya, kasusku jadi nambah pasal,” ucap Agus. Suaranya tetap tenang dan datar.


Sesaat kami semua terdiam. Begitu sederhana kasus yang dialami Agus itu bermula. Dan tidak dinyana, berujung dengan penuh ketragisan.


“Apa perasaan om setelah tahu anak muda yang ditabrak itu ninggal?” tanya Hasbi.


“Biasa aja. Aku punya prinsip, betapapun buruk akhir dari sebuah kisah, bukan alasan untuk sedih atau nyesel. Sebab, yang sudah terjadi nggak akan bisa diubah. Kita nggak bisa juga mundur ke masa lalu, atau belokin cerita lama,” sahut Agus, tetap dengan enteng.


“Sombong kali kamu ini, Agus. Kayak nggak punya perasaan aja,” Nedi menyela.


“Apa yang kamu bilang ini sama persis dengan ucapan anakku. Aku tahu, kesombongan itu penyakit yang sangat berbahaya. Nah, di penjara inilah aku berjuang untuk ngelawan penyakit sombong itu,” sahut Agus sambil menunjukkan senyumnya.


“Gimana caramu ngelawan penyakit sombong itu?” tanya Nedi. Terheran. 


“Caranya, dengan aku ngerendahin diri dan ngerasa hancur di hadapan Tuhan Yang Maha Agung. Itu yang penting buatku. Nggak perlu aku nunjukin wajah nyesel atau sok prihatin,” ujar Agus. Tetap dengan suaranya yang tenang dan datar.


Kembali kami semua dibuat terdiam oleh pernyataan Agus. Ia memang tampak begitu menyederhanakan persoalan yang melilitnya, namun di sisi lain, ia tunjukkan betapa ketawadhuan kepada Sang Pencipta itulah yang segalanya.


“Nggak ada upaya untuk damai ya, Gus. Apalagi yang kamu tabrak sudah ninggal,” ujar Dian. 


Agus menggelengkan kepalanya. Dan kembali melepaskan senyumnya. Yang tampak tanpa beban. Bahkan, terkesan dingin. 


“Kok kamu kesannya jadi manusia yang ngeremehin nasib orang lain gitu ya?” Hendri menukas.


“Nggak gitu juga sebenernya. Justru aku ngebela harkat martabat keluargaku. Utamanya istriku. Yang luka-luka dan harus dapet belasan jahitan di dagunya, juga tulang tangannya retak karena ulah anak itu,” urai Agus kemudian.


“Tapi apapun alasannya, kamu tetep salah, Gus,” kata Hendri.


“Kalau pun aku disalahkan secara hukum, itu urusan dunia. Aku nggak pernah takut sama semua urusan dunia,” sahut Agus. Ada ketegasan dalam perkataannya.


“Jadi apa yang sebenernya bisa buatmu takut, Gus?” sela Nedi.


“Aku cuma takut kalau sampai ditelantarin sama Tuhan karena aku bergantung kepada selain Dia,” jawab Agus lagi. Suaranya tetap penuh ketegasan.


“Harusnya tetep adalah empatimu, Gus. Yang kamu tabrak itu kan sampai ninggal,” lanjut Hendri.


“Secara hubungan manusia, istri dan anak-anakku sudah ngelayat dan kasih bantuan semampunya. Aku rasa itu sudah cukup. Urusan umur, jodoh, dan rejeki itu kan sepenuhnya hak prerogatif Yang Maha Pengatur. Kalau mau protes, ya protes aja sama Tuhan, jangan nyalahin aku. Ini semua cuma lantaran aja,” lanjut Agus tetap dengan suaranya yang tenang dan datar. Bahkan tanpa ekspresi.


“Luar biasa kamu ini, Gus. Kalau di dunia pembunuh bayaran, kamu masuk kriteria pembunuh berdarah dingin,” kata Dian sambil tersenyum.


Agus hanya tersenyum. Itu pun sesaat saja. Setelahnya ia menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kewajiban sebagai penghuni baru di kamar 10.


Bahkan, setelah memperkenalkan diri, ia langsung menyerahkan dana kepada Atmo, baik untuk membeli rokok tiga bungkus sebagai tanda perkenalan maupun uang bulanan Rp 600.000.


“Maaf ini, om. Apa yang membuat om sepertinya tidak peduli dengan nasib orang lain?” tiba-tiba Hasbi mengajukan pertanyaan saat Agus telah duduk kembali di bidang tempatnya tidur.


“Aku bukan nggak peduli sama nasib orang lain, atau orang yang aku tabrak itu ya. Tapi aku emang nggak mau kebawa sama kehidupan orang lain,” ucap Agus.


“Maksudnya seperti apa, om?” lanjut Hasbi dengan pertanyaannya.


“Aku punya prinsip, dalam kondisi apapun, aku tetap harus jadi diriku sendiri. Berhenti dari mikirin sesuatu yang bisa buatku ngerasa terpuruk. Aku harus tetep jadi apa adanya, dan itu lebih bernilai daripada aku nyamar jadi orang lain,” kata Agus, mengurai sikap hidupnya.   


Kami pun memahami betapa kuat kepribadian Agus. Memang, terkesan ia pelaku paham egoistik. Namun, kehidupan sesungguhnya mengajarkan kita untuk tetap mempertahankan jati diri sendiri di tengah lautan karakteristik manusia dengan segala ragam warna dan gelombangnya. Dan itu, memang tidak mudah. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler