Balada Seorang Narapidana (Bagian 107) -->

Balada Seorang Narapidana (Bagian 107)

Minggu, 17 April 2022, Minggu, April 17, 2022


Oleh, Dalem Tehang

  

BEGITU Nasir keluar kamar, Nedi buru-buru mendekatiku. Wajahnya berbinar-binar. Penuh kebahagiaan.


“Alhamdulillah. Terimakasih banyak, Be. Aku malem ini bisa mandangi muka istriku. Ngelihat perut buncitnya yang lagi ngandung anakku. Bener-bener nggak nyangka, bisa lakuin semua ini. Bersyukur bener aku sekamar sama Babe. Penuh dengan keajaiban,” kata Nedi dengan suara bergetar. Menahan haru dan kebanggaan.


Aku hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahunya. Aku tahu persis betapa bahagianya hati Nedi saat ini. Sesuatu yang jauh dari alam pikir dan perkiraannya, mendadak begitu saja terjadi. Bisa bercengkrama dengan istri yang tengah menunggu waktunya melahirkan, dari dalam kamar tahanan. 


“Terimakasih aja sama Yang Kuasa, Nedi. Dia yang ngatur semuanya. Kita cuma jalani skenario aja,” ucapku kemudian. Tetap dengan tersenyum. 


Hendri mendekat, sekeluarnya dari kamar mandi. Seperti juga Nedi, wajah pria berbadan kekar yang tersangkut kasus kriminal pecah kaca dan sempat menjadi buronan empat tahun ini, pun berbinar penuh keceriaan.


“Terimakasih banyak, Be. Alhamdulillah, anakku yang kemarin operasi sudah di rumah dan sehat. Semua keluargaku juga sehat. Cuma anak lanang yang tua sudah beberapa hari ini nggak pulang. Nggak tahu kemana,” urai Hendri setelah duduk didekatku dan Nedi.


“Alhamdulillah. Ada aja cara Allah kasih kita kemudahan. Santai aja. Hidup ini kan sebuah cerita. Aku jalani peranku, kalian jalani peran kalian. Cuma, kita sama-sama belum tahu gimana akhir ceritanya. Jadi, ya nikmati aja perjalanannya. Karena semua sudah tertakar dan nggak mungkin tertukar,” kataku sedikit berfilsafat.


Hendri menyerahkan hp ke tanganku. Sesaat kemudian, aku panggil Dian. Yang baru masuk kamar dan duduk ngedeprok di pojokan sambil melamun.


“Kamu hapal nomor telepon istrimu nggak?” tanyaku, begitu Dian duduk di depanku. 


“Nggak, Be. Emang kenapa?” ujar Dian. Polos.


“Yang kamu hapal, nomer hp-nya siapa?” tanyaku lagi.


Dian tampak berpikir. Sambil matanya berkedip-kedip, menatap ke langit-langit kamar.


“Pasti yang hapal diluar kepalamu nomer hp selingkuhan ya,” kata Nedi tiba-tiba.


Sontak, wajah Dian berubah. Memerah. Ada rasa malu terukir sekilas disana.


“Kok kamu tahu to, Nedi?” kata Dian kemudian, sambil tersenyum.


“Logika aja, kalau nomer hp istri nggak hapal, pasti ada nomer lain yang dihapal. Kalau ngelihat gayamu, ya pasti nomer selingkuhan itulah yang kamu hapal. Iya kan,” lanjut Nedi, kali ini sambil tertawa.


“Asem kamu itu, Nedi. Ngerti wae soal selingkuhan. Emang kenapa, Be?” sahut Dian, juga tertawa.


“Kalau kamu hapal nomer telepon istrimu, aku pinjemi hp buat kamu hubungi dia. Tapi kalau buat selingkuhan, aku nggak akan kasih,” jelasku.


“Woalaah. Yo mestine nggak opo-opo telepon selingkuhan juga, Be. Nanti ku tanya sama dia, berapa nomor istriku. Kan sama aja,” Dian menyela dengan cepat.


“Nggak bisa, Dian. Maunya Babe kan jelas. Minjemin hp buat telepon istri atau anak-anak. Kalau selingkuhan, nggak bakal dikasih,” kata Hendri, menimpali.


“Lha kenapa to kok Babe nggak mau minjemin kalau aku telepon selingkuhan?” tanya Dian dan menatapku dengan wajah serius.


“Nanti dosanya jadi berbagi kalau gitu, Dian. Babe nggak mau kecipratan dosamu,” Nedi yang menyahut dan kembali sambil tertawa.


“Jadi piye iki, Be. Bener-bener nggak iso yo kalau telepon pacarku,” kata Dian lagi. Aku menggelengkan kepala. Tegas. 


Telepon genggam milik petugas piket aku serahkan ke Nedi. Ku pesankan, seluruh penghuni kamar silahkan menggunakannya malam ini dengan catatan hanya untuk menghubungi istri, anak atau orangtua. Selain itu, tidak diizinkan.


“Siap perintah, Be. Emang Babe mau ngapain sekarang,” ujar Nedi begitu hp ditangannya.


“Aku mau tidur. Nanti kan kita mau sahur,” kataku, dan beranjak dari sudut teralis besi menuju ke tempatku. Di sudut ruangan, berbatasan dengan kamar mandi.


Hendri buru-buru keluar kamar. Mencari Irfan yang masih berbaur dengan sesama tahanan di selasar. Waktu ngangin memang benar-benar dimanfaatkan para tahanan untuk bercengkrama dengan sesama.


Setelah mencuci tangannya di kamar mandi dan wudhu, Irfan melakukan tugas rutinnya. Memijat telapak kakiku. Sentuhan ringan meninabobokkan.  


Kelelapanku terusik saat Hasbi menepuk-nepuk kakiku. Perlahan aku buka mata.


“Sahur, Be,” kata dia, begitu ku pandangi wajahnya.


Perlahan aku bangkit. Ke kamar mandi. Selepasnya, aku duduk bersama kawan-kawan yang telah siap untuk makan sahur. Hanya Pepen dan Robi saja yang masih tidur.


Ku akhiri dinihari itu dengan melanjutkan solat tahajut dan wirid hingga waktu solat Subuh tiba. Kesunyian kompleks tahanan menjadikan prosesi penyatuan jiwa raga dengan Kawulo Gusti terasa begitu syahdu. 


Usai subuhan berjamaah dan membaca surah yasin, aku tidur kembali. Pun kawan-kawan yang lain. Hingga kami dikejutkan oleh pukulan keras ke jeruji besi. Apel pagi.


Tidak berselang lama, petugas piket yang tadi malam memberi pinjaman telepon selulernya, datang. Aku kembalikan hp-nya sambil menyelipkan sejumlah uang ke tangannya.


“Apa ini, Be. Nggak usah-lah. Saya sudah seneng kita bisa saling bantu,” kata petugas itu saat merasakan aku menaruhkan sejumlah uang ditangannya sambil menyerahkan hp-nya.


“Itu titipan kawan-kawan. Semalam kawan-kawan bisa juga komunikasi dengan keluarganya. Mohon maaf kalau lancang,” ujarku.


“Oh ya. Nggak apa-apa. Saya malah seneng kalau kawan-kawan juga bisa memanfaatkan untuk komunikasi dengan keluarga,” sahutnya, kali ini dengan tersenyum ramah.


Setelah petugas meninggalkan kamar, Hendri yang telah duduk di tempatnya menatapku lekat-lekat.


“Ada apa, Hen?” tanyaku.


“Babe tadi ngasih uang lagi sama petugas itu ya,” ucapnya. Aku menganggukkan kepala.


“Kan kami yang pakai hp dia, kok Babe yang ngasih uangnya,” lanjut Hendri.


“Ya sudah, kita sama-sama pakai hp dia. Santai aja, Hen,” sahutku.


“Lain kali, kalau ada beginian lagi, biar kami yang sokongan, Be. Jangan Babe yang nalanginnya,” kata Hendri. Wajahnya tampak serius.  


“Iya, nanti kita sama-sama atasi kalau ada kesempatan seperti semalem ya,” sambungku, dan kembali ke tempatku. Melanjutkan tidur.


Sekitar satu jam kemudian, barulah aku bangun. Langsung mandi. Segar rasanya pagi ini. Meski tanpa suguhan kopi pahit. Karena tengah menjalani puasa sunah.


Ku minta Atmo memanggil tamping. Minta pintu kamar dibukakan. Aku ingin bertandang ke pos penjagaan. Menonton televisi. Mengisi waktu. Atmo berbisik, ingin menonton tv juga. Menghilangkan kejenuhan.


Sambil menonton televisi dari sela teralis besi, Atmo bercerita betapa galaunya ia karena sang kekasih hati tidak bisa dihubungi sampai saat ini.


“Semalem kamu kan telepon juga, ke siapa emangnya,” kataku.


“Telepon embok sama kawan yang kenal deket sama pacar saya. Sudah tiga kali kawan itu kesini, dan saya pesenin untuk minta nomer pacar saya, katanya belum ketemu-ketemu,” ucap Atmo. Kegalauannya membuncah.


“Sabar aja. Besok-besok juga pacarmu ngebesuk kesini kok. Nggak usah mikir yang macem-macem soal kawanmu itu,” sahutku sambil menepuk bahunya. Menenangkan Atmo.


“Babe yakin pacar saya mau besukan?” tanya Atmo. Matanya tajam menatapku. Ku anggukkan kepala.


Seulas senyum sempat merekah di sudut bibir anak muda pebisnis jual aki ini. Wajahnya yang bersih karena rutin tersiram air wudhu, menyiratkan adanya ketenangan pada batinnya. 


Tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari kamar 5. Juga suara gedebukan dan teriakan. Petugas piket bergerak cepat. Membuka pintu penghubung dan berlari ke depan kamar 5. Tampaknya ada perkelahian disana.


Aku langsung bergeser. Mengajak Atmo kembali ke kamar. Menyudahi kegiatan menonton televisi.


“Nggak mau lihat dulu ada kejadian apa di kamar 5, Be?” tanya Atmo saat tangannya aku tarik untuk kembali ke kamar.


“Ngapain. Bukan urusan kita. Lagian, kita lagi puasa. Nggak usah ikut campur urusan orang lain,” sahutku dan terus berjalan kembali ke kamar.


Sesampai di kamar, aku langsung wudhu. Solat sunah dan membaca surah yasin. Mencoba belajar lebih detail. Dengan memahami arti dari setiap ayatnya. Ku coba tumpahkan konsentrasi penuh dalam prosesi pembelajaran ini. 


Pengisian waktu dengan geliat mendekat pada Yang Kuasa adalah pilihan yang harus dipaksakan. Bila ingin detik demi detik waktu nan berlalu berisikan makna. Dan itulah yang tengah ku coba. Menjadi lebih baik bagi diri sendiri dibanding hari kemarin. Tanpa mau memperbanding dengan siapapun dan apapun. (bersambung)

Berita Pilihan

berita POPULER+

TerPopuler